Sebagian besar dari pembaca tentunya ingat iklan “Tanya kenapa, tanya kenapa” dari A-Mild (versi polisi ngumpet). Pertama kali saya lihat iklan tersebut, saya tidak bisa berhenti tertawa sendiri. Bukan hanya iklan itu menarik dan lucu, tetapi benar-benar menggelitik hati karena menyinggung setiap diri kita sendiri! Memang benar bahwa kita hanya patuh kalau ada yang melihat, coba, tanya kenapa?

Tanya Kenapa

Bagi yang tidak tahu iklan tersebut, bisa disingkat seperti berikut (sayangnya cuplikan videonya tidak bisa saya temukan di Internet 😦 ):

  1. Seorang gadis muda sedang menyetir dan ingin memutar balik ke arah yang berlainan
  2. Masalahnya ada rambu lalu lintas yang melarangnya untuk memutar balik
  3. Gadis muda tersebut melihat sekelilingnya untuk melihat keberadaan polisi atau tidak
  4. Melihat tidak ada polisi, gadis ini lalu memutar balik
  5. Tiba-tiba seorang polisi (menyamar sebagai semak belukar) memberhentikan si gadis ini

Yang benar-benar mengena ke hati saya adalah adegan berikutnya:

Polisi: “Siang mbak… Ngak lihat rambunya?”

Gadis: “Lihat kok

Polisi: “Lalu kenapa masih dilanggar?”

Gadis: “Kan… ngak ada yang jaga” (sambil senyum-senyum innocent)

Memang betul toh kita hanya patuh kalau ada yang jaga? Tapi, pernah berpikir tidak, kenapa sebenarnya setiap dari kita punya mentalitas seperti ini. Tidak hanya orang Indonesia sendiri, yang memang terkenal tidak berdisiplin, tapi setiap kebudayaan mempunyai mentalitas seperti ini, dengan tingkat keparahan yang berbeda tentunya 🙂

Ternyata, mentalitas ini adalah penyakit dari setiap manusia. Lho? Penyakit? Apa maksudnya? Mari, kita selidiki dari sejarah, sejak kapan penyakit ini mulai menjangkiti manusia…

Dari tulisan yang sebelumnya, Alkitab mengatakan Allah menciptakan dunia ini beserta segala isinya, dan kita (manusia) ditunjuk menjadi penguasa dunia dibawah Allah. Dia pun sudah menetapkan peraturan:

 “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”, Kejadian 2:17

Tentunya, manusia menganggap remeh peraturan ini, dan melanggarnya:

“…buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian”, Kejadian 3:6

Sejak itu, hubungan manusia dengan Tuhan, sesama dan mahluk ciptaanNya telah rusak (akan saya jelaskan lebih jauh di tulisan berikutnya)

Kesimpulan, ketidak mampuan kita didalam mematuhi peraturan bukanlah penyakit yang baru. Kita bisa mencoba menjelaskan fenomena ini dari berbagai macam sudut pandang, tapi pada dasarnya, kita manusia egois. Maunya mengikuti aturan sendiri, tidak peduli dengan yang lain, yang penting saya, saya dan saya lagi!!

Advertisements

Apa Kekristenan Itu?

19 April 2007

Kalau anda bertanya kepada orang kristen, “Mengapa anda menjadi Kristen / Pengikut Yesus?”, apa yang biasanya mereka jawab?

Biasanya orang menjawab:

  1. “Saya dibesarkan di keluarga atau lingkungan Kristen”
  2. “Saya mengikuti tradisi keluarga atau teman-teman”
  3. “Agar hidup saya tenang/terberkati”
  4. “Karena Yesus adalah juru selamat satu-satunya”

Tidak jarang saya menemui orang kristen yang mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan yang sangat sederhana ini. Karena tidak sedikit dari kalangan orang Kristen sendiri yang tidak begitu mengerti apa arti kekristenan itu!

Lalu, bagaimana untuk mencari jawaban yang benar untuk pertanyaan tersebut? Ya, di Alkitab!! Saya menemukan ringkasan iman kekristenan yang sangat baik dari internet, namanya “2 ways 2 live”. Formatnya sangatlah menarik, dan sangat baik dalam menjawab: “Apa sih kekristenan itu?”

  1. God is loving rulerAllah adalah pencipta dunia dan segala isinya, dan telah menempatkan kita sebagai penguasa dunia dibawah kekuasaan-Nya
  2. God rejectedKita semua telah menolakNya sebagai penguasa dunia dengan mencoba untuk menjalani hidup kita tanpa-Nya. Tetapi, kita telah gagal untuk menguasai kehidupan kita, sekitar kita, dan dunia.
  3. DeathTuhan tidak akan membiarkan kita memberontak untuk selama-lamanya, melainkan, hukuman untuk pemberontakan ini adalah kematian dan penghakiman.
  4. Jesus ChristKarena kasihNya, Allah telah mengirim anakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Yesus selalu hidup dibawah hukum Allah, tetapi dengan mati untuk manusia, dia mengambil hukuman manusia dan membawa pengampunan untuk manusia.
  5. Jesus raisedAllah membangkitkan Yesus kembali sebagai penguasa dunia. Yesus sudah menguasai kematian, dan sekarang memberi kehidupan, akan kembali lagi untuk menghakimi manusia.
  6. 2 ways 2 liveHanya ada 2 cara untuk hidup: Cara kita (menolak Allah sebagai penguasa dengan menjalankan hidup kita tanpaNya, akibatnya dihukum oleh Allah dengan kematian dan penghakiman), atau cara Allah (tunduk kepada Yesus sebagai penguasa kehidupan kita, dengan bersandar pada kematian dan kebangkitan-Nya, akibatnya diampuni oleh Allah dan diberikan hidup kekal!

Kesimpulan, untuk menjawab pertanyaan sederhana ini, “apa kekristenan itu”, marilah kita kembali kepada sumbernya, Firman Tuhan itu sendiri. Bukan dari ‘cerita-cerita’ atau ‘analogi’ semata!

Kedatangan-Nya di dunia sudah diramalkan dari awal (jauh sebelum Dia datang ke dunia):

  1. Lahir dari seorang gadis perawan (Yesaya 7:14, Matius 1:22-23)
  2. Tempat kelahiranNya ada di Bethlehem (Mikha 5:2, Matius 2:5-6)
  3. Seorang utusan akan dikirim untuk menyiapkan jalan untukNya (Maleakhi 3:1, Matius 11:10)
  4. Dan banyak lainnya (bisa baca sendiri di Matius, Markus, Lukas atau Yohanes)!

Pengalaman Kerja selama di dunia:

  1. Mengajar Hukum Tuhan kepada orang banyak (contoh: Matius 4:12-17)
  2. Menyembuhkan yang sakit (contoh: Matius 4:23-25)
  3. Memberhentikan angin ribut (Matius 8:23-27)
  4. Memberi makan 5000 orang hanya dengan 5 roti dan 2 ikan (Matius 14:13-21)
  5. dan lain-lain (bisa baca sendiri di Matius, Markus, Lukas atau Yohanes)!

Pengakuan dari diri-Nya sendiri:

  1. Seorang Mesiah (yang terpilih), Yohanes 4:25-26
  2. Anak Allah, Yohanes 5:17-18
  3. Roti Hidup, Yohanes 6:35
  4. Satu-satunya jalan untuk mengenal Allah Bapa, Yohanes 14:6-7
  5. dan lain-lain (bisa baca sendiri di Matius, Markus, Lukas atau Yohanes)!

Kesaksian dari orang lain:

  1. “Anak-Ku”, suara dari sorga (Markus 1:11)
  2. “Anak Allah”, dari Yohanes pembaptis (Yohanes 1:34)
  3. “Anak dari Allah yang maha tinggi”, dari roh jahat (Markus 5:6-9)
  4. dan banyak lainnya, bisa baca sendiri di Matius, Markus, Lukas atau Yohanes!

Melalui kutipan-kutipan Alkitab di atas, bisa kita simpulkan, bahwa Yesus memproklamasikan diriNya sendiri (dengan banyak saksi) sebagai Anak Allah, yang terpilih, sebagai satu-satunya jalan untuk mengenal Allah Bapa!

Wah!!! Sebuah pernyataan yang sangat kontroversial!!! Mengaku diriNya setara dengan Tuhan!! Lalu, apa tanggapan kita dari pernyataan-Nya ini:

  1. “Yesus ini adalah seorang pembohong, tidak mungkin dia setara dengan Tuhan!”
  2. “Yesus ini mungkin sebagian benar, tapi ada beberapa dari pernyataan-Nya yang tidak logis, dan tidak bisa dipercaya!”
  3. “Pernyataan Yesus yang dikutip di atas diambil dari Alkitab, sedangkan Alkitab sendiri belum tentu bisa diambil sebagai catatan sejarah yang benar!”
  4. “Yesus ini telah berkata jujur dan semua pernyataan-Nya adalah kebenaran”

Seperti tulisan yang sebelumnya, menganalisa akibat atau konsekuensi mungkin lebih berarti dalam menanggapi pernyataan dari Yesus!

Kalau memang Tuhan itu sudah memperkenalkan diriNya sendiri (untuk bagaimana mengetahui Tuhan yang mana, lihat tulisan sebelumnya), memang kenapa? Apa akibat atau konsekuensi dari kita mengenal atau tidak mengenal Tuhan ini?

Seperti tulisan saya yang pertama, mungkin bisa saya tambahkan juga, tanggapan kita bisa di-generalisasi-kan seperti berikut:

  1. “Wah, saya sudah dibesarkan di keluarga yang saleh dan beragama, jadi saya sudah mengenal Tuhan sejak kecil”
  2. “Saya sih sekarang sudah dewasa dan bisa berpikir sendiri, jadi ‘tuhan-tuhanan’ dan agama bukan untuk saya, yang penting hidup yang benar saja lah!! Beragama itu bagus, hanya untuk meningkatkan moral, cukup segitu saja lah!”
  3. “Wah, agama itu buatan manusia, orang yang terpelajar tentunya tahu itu!! ”
  4. “‘Banyak jalan menuju ke Roma’, begitu juga dengan agama, Tuhan yang mana saja akan berakhir di jalan yang benar!”

Tentunya banyak dari kita bisa dikategorikan di antara 4-poin di atas. Kategori apa kita saat ini, mungkin tidak sepenting apa akibat dari keputusan kita saat ini terhadap ‘ketuhanan’. Contoh:

Saat ini presiden Indonesia adalah si ‘SBY’. Apa akibatnya dari:

  1. “Saya sudah tahu dari kecil memang presiden itu ada!”, akibatnya: selama kita tahu bahwa si ‘SBY’ adalah presiden yang sah dan mengikuti peraturan kenegaraan-nya, sepertinya kita hidup tenang-tenang saja 🙂 .
  2. “Saya sekarang sudah dewasa, dan bisa berpikir sendiri, banyak peraturan di negara ini yang saya tidak setuju! Contohnya: saya bisa mengemudi seenak hati di jalan raya!”, akibatnya: kena tilang dari pak polisi deh!
  3. “Wah, presiden itu kan buatan rakyat, semua juga tahu itu, sedangkan saya tidak setuju dengan rakyat banyak! Contoh: Saya maunya mengemudi seenak hati di jalan raya!!”, akibatnya: kena tilang dari pak polisi lagi deh!
  4. “‘Banyak jalan menuju ke Roma’, begitu juga dengan peraturan negara, saya presiden di rumah dan kampung saya sendiri kok! Sehingga saya bisa mengikuti peraturan saya sendiri, sama saja kan! Contoh: saya bisa mengemudi seenak hati di jalan kampung!”, akibatnya: kalau memang tidak ada polisi di kampung, tapi jadinya menabrak orang, wah wah!!

Nah, sekarang bagaimana dengan ‘Tuhan’? Kalau memang ‘Tuhan’ yang sudah memperkenalkan diriNya sendiri memang berkata “Aku seperti polisi lalu-lintas, dan akibat dari melanggar peraturanKu adalah surat tilang!”. Wah, terus terang kita bisa lega, karena membayar tilang tidaklah begitu parah 😀 !

Masalahnya, bagaimana kalau ‘Tuhan’ ini sudah menetapkan peraturanNya, “PeraturanKu begini begitu, kalau kau melanggarNya, akibatnya adalah kau akan menderita beribu-ribu tahun!!”. Wah wah, kalau memang peraturanNya begitu keras, bukankah kita akan lebih serius untuk mau mengenal ‘Tuhan’ ini, karena kita takut akan konsekuensinya??

Kesimpulan: keputusan yang kita ambil harusnya berdasarkan akibat atau konsekuensi, dan bukanlah emosi semata (termasuk pendapat pribadi), setuju? Jadi, kalau memang ada ‘Tuhan’ yang telah menetapkan peraturanNya dengan konsekuensi yang dahsyat, bukankah kita mau mengenalNya lebih jauh??

Mengaku Sebagai Tuhan

11 April 2007

Melanjutkan tulisan yang sebelumnya, akankah lebih mudah untuk kita mengenal si presiden, jika dia memperkenalkan dirinya sendiri kepada kita? Bentuknya bisa berbagai cara tentunya:

  • Hubungan langsung antara si presiden dengan kita: melalui empat-mata, telepon, surat menyurat, dan lain sebagainya
  • Tidak langsung: membaca biografi (jurnal, buku, dan lain sebagainya) tentang si presiden, atau mencari tahu dari kerabat dekat dan teman si presiden.

Melalui metode di atas, kita bisa mencari tahu (atau mengenal lebih dalam) siapa presiden ini. Lebih penting lagi, apabila presiden ini memang benar ‘si presiden’ atau yang palsu! Contohnya, seorang turis dari luar Indonesia ingin mencari tahu latar belakang siapa presiden Indonesia. Ada banyak cara tentunya, dan bisa dikategorikan seperti 2-poin yang saya sudah sebutkan di atas. Tapi, bagaimana si turis ini tahu, bahwa hasil penelitian tentang ‘si presiden’ ini benar atau salah? Sejauh ini si turis telah mendapat informasi seperti berikut:

  1. Si turis mendapat puluhan artikel yang ditulis oleh jurnalis terkemuka, bahwa ‘si-SBY’ adalah presiden Indonesia,
  2. Si turis juga mendapat banyak artikel ‘si-SBY’ ini menjalankan tugas-tugas yang hanya presiden bisa lakukan,
  3. ‘Si-SBY’ ini juga terang-terangan mengaku di berbagai pidato, bahwa dia adalah presiden Indonesia.
  4. Di forum publik dari berbagai majalah dan surat kabar, si turis melihat, berbagai kalangan, baik yang mendukung si presiden maupun tidak, menyinggung ‘si-SBY’ ini memang presiden Indonesia.

Nah, kalau kita mau simpulkan dari 4-poin di atas: pengakuan dari orang lain, baik kualitas (jurnalisme terkemuka) maupun kuantitas (banyak orang yang mengaku bahwa ‘si-SBY’ ini presiden), bahkan dari kalangan yang tidak menyukai ‘si-SBY’ pun mengaku bahwa dia adalah presiden, bisa ‘si turis’ simpulkan kalau ‘si-SBY’ ini memang presiden Indonesia!!

Dengan metodologi yang sama, kita seharusnya bisa meneliti bahwa apa, siapa, eksistensi Tuhan itu. Menggunakan analogi poin 1 sampai 4 seperti di atas:

  1. Artikel, jurnal, kitab suci apa yang mempunyai referensi ke Tuhan? Wah, banyak sekali jawabannya. Kalau anda punya waktu 🙂 , saya undang anda baca sendiri, karena kalau anda bertanya kepada orang lain, bahkan yang mengaku beragama pun, mereka sendiri terkadang (baca: terlalu sering) tidak pernah membaca buku panduan atau kitab suci mereka sendiri!!! Untuk mendapat informasi yang akurat, akan lebih baik jika anda membacanya sendiri!!! Mulailah dari latar belakang Islam, Kristen, Budha, Hindu, dan terlalu banyak lainnya.
  2. Kalau seseorang (atau sesuatu) mengaku sebagai Tuhan, ‘sesuatu’ ini seharusnya bisa melakukan yang ‘Tuhan’ bisa lakukan. Contohnya, kalau definisi ‘Tuhan’ itu pencipta langit dan bumi, ‘Tuhan’ ini juga seharusnya bisa mengontrolnya, seperti mengontrol cuaca, tanaman, atau bahkan kematian dan kehidupan! Setuju?
  3. ‘Sesuatu’ ini juga terang-terang mengaku ‘Tuhan’
  4. Banyak didukung saksi-saksi (tidak hanya sekadar pengikut), bahwa ‘sesuatu’ ini memang ‘Tuhan’!!

Kalau kita pikirkan secara logis, banyak sekali informasi tentang ‘Tuhan’ yang bisa jatuh di kategori 1, 2, 3 atau 4 di atas (tidak terlalu banyak di poin ‘3’ tentunya). Tapi, marilah kita pikir lebih jauh lagi, siapa  yang bisa jatuh ke kategori 1, 2, 3 dan 4 secara konsiten???

Saya undang anda untuk berpikir akibat dari metodologi ini. Kalau ada ‘sesuatu’ di dunia ini yang bisa memuaskan 4-kategori di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa Tuhan itu ternyata bukan sesuatu yang ‘mistis’, atau ‘struktur-yang-belum-kita-ketahui’, melainkan ‘sesuatu’ yang sudah memperkenalkan diriNya kepada kita dan kita bisa mengenalNya!!!! Setuju??

Apa Itu Garam Dunia?

10 April 2007

Untuk memulai penjelasan mengapa “Garam Dunia” ada, mari kita pertimbangkan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • “Bagaimana cara mengenal seseorang yang kedudukan atau statusnya jauh lebih tinggi dari saya?”
  • “Apa konsekuensi atau akibat dari mengenal atau tidak mengenal orang ini?”

Contoh, mari kita asumsi orang penting ini adalah seorang presiden atau raja. Di dalam asumsi ini, kita juga tidak mengenal secara pribadi si presiden atau sang raja, maupun teman atau keluarga dekatnya. Lalu bagaimana kita bisa kenal dia? Kalau kita pikir secara logis, ada beberapa cara:

  1. Kita berprestasi sehebat mungkin dalam berbagai bidang ilmu, dan berharap, si presiden atau sang raja terkagum atas prestasi kita, dan kita bisa dipanggil olehnya. Dengan demikian, kita bisa mulai mengenal si presiden atau sang raja.
  2. Kita melakukan studi dan penelitian dari buku-buku, baik biografi ataupun publikasi-publikasi yang tersedia mengenai si presiden atau sang raja ini. Tentunya, kita berasumsi ada sekelompok orang (mungkin keluarga, atau teman), termasuk si presiden dan sang raja sendiri, telah menulis publikasi-publikasi ini. Semakin dekat hubungan si penulis ini terhadap si presiden atau sang raja, semakin akurat studi kita.
  3. Si presiden atau sang raja memperkenalkan mereka sendiri kepada kita. Ini adalah cara yang paling akurat untuk mengenal mereka, karena dengan pengalaman mata dan telinga kita sendiri, kita bisa bertanya, dan melihat karya-karya si presiden atau sang raja.

Lalu, apa konsekuensinya dengan mengenal atau tidak mengenal si presiden atau sang raja ini? Wah, pertanyaan ini benar-benar tergantung si presiden, sang raja, atau kita sendiri. Contohnya, di dalam konteks kehidupan sehari-hari belakangan ini, kita tidak begitu perlu mengenal presiden di negara kita sendiri. Untuk kepentingan kita sendiri, mungkin sangat baik mengenal si presiden, karena kebutuhan kita di dunia ini mungkin akan jadi lebih mudah. Contoh, peluang untuk berpolitik, ber-bisnis, dan lain sebagainya.

Kita bisa mengganti ‘tokoh-penting’ ini dengan orang lain tentunya. Saya undang anda untuk mengganti ’si presiden’ atau ’sang raja’ dengan: ayah, ibu, kekasih, atau orang penting lainnya di hidup anda. Metode ‘bagaimana-saya-mengenal-dia’ tidak akan jauh dari 3-poin yang saya sudah kemukakan di atas. Juga, apa konsekuensinya dengan mengenal atau tidak mengenal orang-orang ini di kehidupan kita.

Nah, sekarang ke pertanyaan yang sangat penting!! Bagaimana kalau tokoh penting ini adalah Tuhan sang pencipta langit, bumi dan segala isinya?? Bagaimana kita bisa mengenal Tuhan (yang tidak terjangkau?) ini? Apa konsekuensi atau akibat dari mengenal atau tidak mengenal Tuhan ini??

Tentunya, ada beberapa tanggapan yang bisa di-generalisasi-kan:

  1. “Wah, saya sudah dibesarkan di keluarga yang saleh dan beragama, jadi saya sudah mengenal Tuhan sejak kecil”
  2. “Saya sih sekarang sudah dewasa dan bisa berpikir sendiri, jadi ‘tuhan-tuhanan’ dan agama bukan untuk saya, yang penting hidup yang benar saja lah!! Beragama itu bagus, hanya untuk meningkatkan moral, cukup segitu saja lah!”
  3. “Wah, agama itu buatan manusia, orang yang terpelajar tentunya tahu itu!!”

Bagaimana dengan anda? Masuk kategori manakah anda dari 3-poin yang di atas?

Mengapa “Garam Dunia” ada? Saya hanya ingin berbagi pengetahuan kepada para pembaca, bahwa tiap keputusan, ada konsekuensi. Ada keputusan yang anda ambil setiap hari, tidak memiliki akibat yang berarti. Tapi bagaimana anda tahu bahwa akibat dari keputusan anda itu berarti atau tidak?? Seseorang yang mengalami atau tahu lebih tentang keputusan tersebut, tentunya lebih terdidik akan konsekuensinya!! Setuju?

Contoh sederhana, di dalam peraturan lalu lintas: saya kurang tahu peraturan berlalu lintas di jalur Thamrin-Sudirman di Jakarta. Terlebih lagi, saya juga tidak tahu konsekuensi dari kekurang-tahuan saya terhadap peraturan-peraturan tersebut. Untungnya, orang-tua saya tahu dan berpengalaman di jalan-jalan protokol itu. Saya ‘diberitahu’ bahwa saya harus begini-begitu KALAU TIDAK saya akan kena denda (akibat dari melanggar peraturan tersebut).

Nah, sama dengan mengenal Tuhan. Bagaimana kalau seseorang yang sudah mengenal Tuhan telah memberi tahu saya, bahwa Tuhan itu nyata dan kita harus menyembah-Nya. Terlebih lagi, konsekuensi dari tidak menyembahnya adalah begini-begitu. Lalu apa tanggapan kita?

  1. Mau mengenal lebih dalam siapa Tuhan ini?
  2. Peduli amat?
  3. Tidak dalam prioritas kehidupan saya?

Mudah-mudahan diskusi di “Garam Dunia” ini bisa memberi wawasan yang lebih luas kepada para pembaca: Apa dan mengapa di dalam mengenal Tuhan dan akibatnya!