Apakah hanya di sekitar saya saja, atau memang benar¬†terlalu banyak di kalangan kristen sendiri yang jarang (bisa dibilang hampir tidak pernah) membaca Alkitab (baca: Firman Tuhan)? Masalahnya, kalau kita berkata, “Saya pengikut Tuhan”, bagaimana mungkin kita mengikuti sesuatu yang tidak kita kenal? Ngikut saja begitu?

Tentu saja, banyak alasan dari tidak membaca Firman Tuhan, beberapa yang sering saya dengar:

  1. Tidak sempat. Bagaimana mungkin saya punya waktu untuk membaca Alkitab kalau pekerjaan sekolah/kerja saya begitu berat, belum lagi membagi waktu untuk teman dan keluarga, wah, mana sempat! (Tetapi sempat untuk nonton sinetron, bioskop, bermain NintendoDS, dan lain sebagainya ūüėČ )
  2. Tidak relevan. Itu kan kumpulan cerita dari zaman dahulu, jadi, bagaimana mungkin bisa diaplikasi dengan kehidupan sekarang?
  3. Sok suci. Sekali seminggu di gereja cukup kok. Saya kan hanya orang awam saja.
  4. Terlalu sulit untuk dimengerti. Alkitab hanya dapat dibaca oleh para pendeta dan lulusan sekolah teologia saja.

Untuk alasan yang pertama, saya yakin pastor/pendeta anda punya beribu cara bagaimana cara meluangkan waktu untuk membaca Alkitab. Contoh: Dibaca itu Alkitabnya! Masalah waktu atau tidak punya waktu itu bukan masalahnya, seperti kegiatan lainnya di kehidupan kita, jika kita ingin melakukannya, maka kita akan mencari waktu untuknya. Seperti kita akan berusaha keras untuk mencari waktu untuk berolah raga untuk kesehatan jasmani, pantaslah kita berlatih untuk kerohanian kita:

“Latihan-latihan jasmani itu baik, tetapi latihan rohani jauh lebih penting…, karena hal itu tidak saja bermanfaat dalam hidupmu sekarang ini, tetapi juga dalam hidupmu yang akan datang” 1 Timotius 4:8

Untuk alasan yang kedua, masalah relevan atau tidak, kita hanya bisa bertanya kepada kita sendiri, “Saya adalah Tuhan, maka, saya sendiri yang menetapkan mana yang relevan atau tidak!”. Betul begitu?

Untuk alasan yang ketiga, saya yakin pastor/pendeta/pembimbing anda akan memberi ratusan alasan mengapa hal ini baik untuk kebaikan kita sendiri, bukan si pendeta atau untuk Tuhan, tetapi kita sendiri!

“Seluruh Kitab Suci diberikan kepada kita melalui ilham Allah dan berguna untuk mengajarkan kebenaran kepada kita serta menyadarkan kita akan apa yang salah dalam hidup kita; Kitab Suci meluruskan dan menolong kita melakukan hal-hal yang benar. Itulah cara Allah menjadikan kita siap dalam segala segi, diperlengkapi dengan sempurna untuk berbuat baik kepada semua orang” 2 Timotius 3:16-17

Untuk alasan yang keempat, memang harus diakui Alkitab adalah sebuah buku yang tebal, maka persepsi kita seakan-akan buku ini sangat sulit untuk dibaca. Perlu diketahui, Alkitab bukanlah sebuah buku kumpulan cerpen (cerita pendek) untuk bacaan di waktu senggang, tetapi sebuah buku yang berisi cerita dari Allah, hubunganNya dengan mahluk ciptaanNya, dengan tujuan yang jelas:

“supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,¬†dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Filipi 2:10

Akibatnya, kita tidak bisa membaca Alkitab bak buku Undang-Undang, dimana buka halaman apa saja, lalu bisa diaplikasi ke kehidupan kita secara langsung. Melainkan, ini adalah sebuah cerita, yang harus ditempatkan dalam konteksnya. Contoh: kita tidak bisa membaca sebuah buku novel dan mengerti isinya dengan secara acak membuka sebuah halaman, bukan begitu?

Advertisements

Dari tulisan yang sebelumnya, peran istri di dalam keluarga menurut Alkitab telah dipaparkan. Kalau mau dipikir-pikir, rasanya kok berat sekali? Sepertinya si suami dapat untungnya saja, apakah benar begitu?

Tentu saja, kalau kita mau tahu peran suami-istri yang baik sebagai pengikut Tuhan, sumbernya tidak lain adalah Firman Tuhan itu sendiri. Mari kita lihat apa peran suami di dalam keluarga:

  • Mengasihi istri, seperti Kristus telah mengasihi gerejanya (pengikutNya, bukan gedungnya tentunya ūüėČ ), dan telah menyerahkan diriNya sendiri untuk gerejanya. Efesus 5:25

Tujuannya:

  • Memberikan istrinya sebagai persembahan¬†yang suci dan tanpa cacat untuk Tuhan, melalui ajaran FirmanNya, Efesus 5:26-27

Akibat dari tanggung jawab ini:

  1. Suami tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri. Seperti Kristus datang ke dunia untuk berkorban bagi manusia, tidak untuk kepentinganNya sendiri!
  2. Kerohanian istri, sebagian besar merupakan tanggung jawab si suami.

Melalui definisi di atas, suami memegang peranan yang sangat penting di dalam keluarga. Firman Tuhan memberikan peran kepada suami, agar mengasihi istri seperti Kristus mengasihi gerejaNya!

Sedemikian seriusnya hubungan suami-istri ini, tidak heran, Paulus memberikan peringatan yang bijaksana di dalam hal ini, di dalam suratnya 1 Korintus 7

Amat disayangkan bahwa topik seksualitas tidak terlalu banyak didiskusikan (bisa dibilang hampir tidak pernah) di¬†kalangan kristen, karena hal ini dianggap¬†tabu, untuk suami-istri saja¬†atau banyak alasan lainnya. Masalahnya, di dalam pengalaman saya, apalagi di kalangan muda-mudi, mereka sangatlah ingin mengetahui apa pandangan Alkitab di dalam hal ini. Contohnya saja, salah satu kegiatan tambahan di sekolah saya (pada jaman dahulu kala ūüėČ ), pendalaman alkitab, jarang sekali yang meminatinya, tetapi, ketika topik seksualitas muncul, kelas ini langsung penuh! Pesertanya pun sangat aktif dalam berdiskusi dan bertanya.

Mengapa topik ini begitu menarik perhatian? Apakah memang ini hanyalah bagian dari naluri manusia yang sudah dari sananya? Atau dari evolusi? Sudah saya paparkan di tulisan yang sebelumnya asal muasal seksualitas ini menurut Alkitab. Tetapi, di artikel ini, ada satu hal spesifik yang ingin saya lebih bahas lebih lanjut: masturbasi.

Apakah masturbasi itu dosa?” merupakan mayoritas pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta pendalaman alkitab pada waktu itu. Tentunya,¬†pertanyaan ini ditulis di secarik kertas, dan dikumpulkan, lalu hanya pertanyaan yang paling banyak sajalah yang dibahas waktu itu. Tidak ada yang punya nyali untuk mempertanyakan hal ini secara langsung pada waktu itu. Terus terang saja, saya sama sekali tidak ingat apa yang saya pelajari dari diskusi ini (sudah terlalu lama ūüėČ ), tetapi topik ini selalu hangat, bahkan sampai sekarang!

Untuk mendapat jawaban yang ‘Alkitabiah’, tentunya kita hanya dapat berdasarkan pada Alkitab, bukan pada perkataan atau analisa¬†si ‘A’, ‘B’, atau tokoh terhormat lainnya, termasuk presiden (dan termasuk saya sendiri tentunya)!!! Berdasarkan prinsip ini, ada beberapa fakta dari Firman Tuhan¬†yang perlu dipertimbangkan dalam hal masturbasi:

  1. Seks diciptakan oleh Tuhan dengan tujuan yang baik dan untuk dinikmati oleh sepasang suami istri (Kejadian 1:27,31 dan Kejadian 2:24)
  2. Alkitab tidak memiliki tulisan langsung mengenai hal masturbasi. Akibatnya, Alkitab tidak mendukung ataupun melarang hal ini. Marilah kita berhati-hati dalam melarang hal-hal yang Alkitab pun tidak menyebutnya.
  3. Pengajaran langsung dari Yesus sendiri: “jika ada orang yang memandang perempuan dengan pikiran penuh hawa nafsu, orang itu sudah berbuat zina dengan perempuan itu dalam pikirannya” Matius 5:28
  4. “”Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain” 1 Korintus 10:23-24

Kesimpulan, bukan masturbasi itu sendiri yang menyebabkan dosa, tetapi mengapa seseorang melakukannya:

  • Jika seseorang melakukannya karena nafsu birahi yang dibangkitkan dari orang lain¬† yang bukan istri (atau suaminya), melalui gambar-gambar maupun hanya imajinasi, menurut Matius 5:28, ini merupakan perbuatan dosa
  • Jika seseorang melakukannya dengan tujuan mengontrol hawa nafsu, baik sebagai seorang bujang (atau perawan), ataupun¬†karena si¬†suami atau si istri yang sedang berpergian dalam jangka waktu yang lama, ini menjadi masalah ‘kebebasan orang percaya’ (Roma 14, 1 Korintus 10:23-33)

Tujuan saya menulis artikel ini¬†adalah untuk mengundang¬†sesama pengikut Yesus, untuk tidak membebani sesama dengan perintah-perintah atau larangan yang bahkan tidak pernah disebut di dalam Alkitab. Pada saat yang sama, kita sebagai pengikut Yesus, tidak mencari alasan ‘saya boleh kok melakukan hal ini karena ini itu‘,¬†melainkan mencari kepentingan orang lain terlebih dahulu.

Tidak sedikit dari kalangan orang kristen, sering menambah ungkapan “semoga Tuhan memberkati” atau “kalau Tuhan menghendaki”¬†di¬†dalam ungkapan mereka. Contoh:

  • “Saya baru saja melamar pekerjaan di perusahaan ‘A’, semoga Tuhan memberkati
  • Kalau Tuhan menghendaki, proposal bisnis saya akan berjalan lancar”
  • “Kami akan menikah beberapa bulan ke depan, semoga Tuhan memberkati
  • “Kalau Tuhan menghendaki, saya akan sembuh dari penyakit ini”

Tentunya, ungkapan ini baik karena mengungkapkan kerendah hatian kita bahwa semuanya memang datang dari Tuhan. Bahkan Alkitab pun menunjukkan ke hal yang sama:

Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4:15

Jadi, memang tidak salah kan, kalau saya berharap Tuhan mengabulkan rencana atau permintaan saya untuk ini dan itu? Ditambah lagi, saya sudah berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti peraturan dan menjauhi larangan-Nya. Lagipula, tidaklah sulit sama sekali, untuk Tuhan yang sudah menciptakan langit, bumi dan beserta segala isinya, untuk mengabulkan permintaan yang sederhana ini?

Yesus sendiri juga menjanjikan berkat yang berlimpah:

“Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?¬†Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.¬†Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” Matius 6:31-33

Sekarang,¬†pertanyaannya adalah: Apa memang benar bahwa Tuhan itu ada untuk memenuhi atau memberkati hidup¬†saya?. Wah, apa bedanya sama¬†si ‘Aladdin dengan lampu ajaibnya’? Enak sekali punya Tuhan yang bisa menanggapi kemauan saya! Apakah betul begitu? Apa kehendak Tuhan yang sebenarnya??

“…supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Filipi 2:10-11

Tapi itu tidak menjawab pertanyaan saya! Apa kehendak Tuhan dengan pekerjaan atau karir saya? Pasangan hidup dan keluarga¬†saya? Liburan saya? Rumah tinggal saya? …

Sekali lagi, sebagai pengikut Yesus, marilah kita ingat, kita bukan Tuhan, tetapi Yesus. Akibat dari pernyataan ini adalah:

  • Hidup ini bukanlah semata agar karir saya menjulang tinggi, atau
  • Mencari suami/istri yang sempurna, atau
  • Rumah yang besar, atau lain-lainnya
  • Melainkan untuk melayani Tuhan¬†dan sesama!

“Janganlah melakukan sesuatu karena didorong kepentingan diri sendiri, atau untuk menyombongkan diri. Sebaliknya hendaklah kalian masing-masing dengan rendah hati menganggap orang lain lebih baik dari diri sendiri” Filipi 2:3

Jadi, kita tidak boleh memiliki karir, pasangan hidup atau rumah yang sempurna begitu??

Tentu saja tidak benar. Melainkan, kalau memang Tuhan memberkati kita dengan bentuk apa pun juga, marilah kita menggunakannya untuk melayani orang lain! Contoh:

  • Jika kita memegang posisi penting di dalam bisnis atau pekerjaan, marilah kita bertindak adil kepada pegawai dan sesama
  • Hidup ini bukan bertujuan untuk mencari pasangan hidup yang sempurna, untuk lebih lanjut, lihatlah tulisan yang sebelumnya
  • Jika kita diberkati secara finansial, gunakanlah untuk membantu fakir miskin dan pekerjaan Tuhan

Intinya, kita diselamatkan untuk melayani!

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya” Efesus 2:10

Pernah tidak anda penasaran, mengapa kita sebagai manusia sangat perduli terhadap pasangan hidup? Apalagi¬†sewaktu masa puber, kita mulai lirik-lirik dan bahkan merasa punya pacar merupakan sebuah keharusan. Terlebih lagi, setelah punya pacar, rasanya tidak perduli lagi dengan dunia, semua berbunga-bunga dan indah sekali ūüėČ . Walaupun perang nuklir sedang terjadi, yang penting saling memiliki!

Lalu, kalau sampai putus dengan pacarnya, sebaliknya juga terjadi. Dunia rasanya gelap, mati tidak mau tapi hidup pun tak rela, hati seperti ditusuk-tusuk beribu-ribu pedang rasanya. Bahkan, rasa sakit ini tidak jarang berlangsung berbulan-bulan, atau bahkan lebih, kalau mau diingat-ingat lagi.

Kalau mau diadakan survey di dalam masalah pasangan hidup, saya yakin bahwa hampir semua orang akan menempatkan masalah pasangan hidup di dalam prioritas hidup mereka. Dari masalah bagaimana mencari, memilih, dan memiliki pasangan hidup.

Apakah ini hasil dari evolusi? Atau memang ini naluri manusia? Atau memang sudah dari sananya?

Mari, kita lihat kitab Kejadian untuk lihat sejarah, asal-muasal ‘pasangan hidup’:

  1. ¬†Ketika Allah menciptakan dunia beserta segala isinya (hari kesatu sampai keenam), Dia selalu berkata bahwa hasil ciptaanNya itu ‘baik’¬†(Kejadian 1:4, 10, 12, 18, 21, 25 dan 31)
  2. Hanya dalam satu hal saja Allah berkata sesuatu itu tidak baik. Yaitu, waktu Ia melihat bahwa manusia yang diciptakanNya itu sendiri (Kejadian 2:18)
  3. Diciptakanlah perempuan, sebagai ‘penolong yang sepadan’. Sejak ini, Allah menganggap pernikahan adalah hal yang serius, dan mereka menjadi satu daging (asal mula hubungan seksual suami-istri), Kejadian 2:24.

Seperti yang Firman Tuhan katakan, hubungan suami-istri adalah sesuatu yang Tuhan ciptakan, dan merupakan sesuatu hal yang indah (juga hubungan seksual suami-istri)!!!

Wah, pantas saja di kepala kita, dari dahulu, yang dipikirkan bagaimana mencari pasangan hidup! Terlebih lagi, hubungan seksual juga merupakan dari bagian naluri manusia! Masalahnya, kenapa saat ini kenyataannya berbeda?  Mengapa sekarang manusia, bahkan sesama suami-istri saling menyakiti? Hubungan seksual juga menjadi disalahgunakan?

Sayangnya, pemberontakan manusia merusak semuanya (bacaan lebih lanjut di tulisan yang sebelumnya)! Jadi, jangan heran kenapa begini-begitu! Sudah diperingatkan dari awalnya kok!!

“Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka” Roma 1:26-27

Lalu, apa tujuan menikah di dalam Alkitab setelah pemberontakan manusia ini? Saya undang anda untuk membaca seluruh kitab 1 Korintus 7 tentang hal ini, karena saya tidak bisa mengulasnya lebih jelas lagi!

Satu hal, tidak jarang saya mendengar dari saudara seiman di dalam Kristus yang mengatakan, “Wah, sudah punya calon belum? Kapan menikahnya? Kalau belum, mari saya doakan agar cepat-cepat mendapat jodoh!”. Lho? Tujuan hidup untuk mendapat jodoh atau pasangan hidup begitu? Sekali lagi, mari saya undang anda untuk membaca 1 Korintus 7 ini secara keseluruhan!!!

Kesimpulan: Menikah atau tidak menikah bukanlah pertanyaannya!! Tetapi, bagaimana menjalankan kehidupan saya untuk taat kepadaNya!! Kalau memang bisa single, ya jalanilah hidup itu dengan taat. Kalau tidak bisa, ya menikahlah!

Pernah tidak anda berpikir, mengapa anak kecil, yang tidak perlu diajari untuk menjadi egois, bisa egois? Contoh: Tidak sulit untuk melihat antara dua (atau lebih) anak kecil saling bertengkar untuk memperebutkan sebuah mainan. Padahal mereka sudah diajarkan dari kecil untuk saling berbagi, tapi tetap saja mereka bertingkah seperti demikian.

Masalahnya, di dunia orang dewasa lebih parah lagi. Sepasang suami-istri kok bisa bertengkar pada masalah sepele? Saudara sekandung bisa bertengkar atas masalah uang? Di dunia perpolitikan apa lagi, bisa-bisanya mereka saling sikut-menyikut (tidak jarang saling membunuh) untuk mendapat posisi teratas. Manusia bisa saling membenci (sampai membunuh) hanya karena beda agama, warna kulit, ras, atau masalah sepele lainnya. Tidak perlu jauh-jauh, di kehidupan sehari-hari misalnya, betapa menjengkelkan begitu banyak orang yang tidak patuh peraturan dan disiplin, membuat jalan macet! Dunia ini kok dipenuhi orang egois sih?

Bukan saja antara sesama, bahkan dengan alam sekitar. Mengapa bisa ada banjir, gempa bumi, tsunami, penyakit, dan semua yang mengakibatkan penderitaan ini? Kalau memang Tuhan itu ada, berarti Tuhan itu tidak adil, karena Dia mengizinkan semuanya ini terjadi (boleh saya dengar dari komentar orang banyak)! 

Lalu, apa yang Firman Tuhan katakan? Apakah Tuhan itu iseng menambah semua penderitaan ini, untuk menguji manusia semata? Atau ada alasan lain? Mari kita lihat sejarah penciptaan dunia dari Kejadian 1 & 2. Dari buku ini, bisa kita lihat bahwa hal-hal yang disebut di atas belum ada di dunia. Bisa juga dilihat, ada pola yang konsisten setiap saat Allah selesai mengerjakan sesuatu setiap harinya:

“Allah melihat bahwa semuanya itu baik” Kejadian 1:4, 10, 12, 18, 21, 25, 31

Kesimpulan, dunia ini pertama kali diciptakan dalam keadaan sempurna! Tidak ada penderitaan, fitnah, luka, ataupun penderitaan lainnya yang kita alami pada saat sekarang. Lalu, apa yang membuat dunia ini berubah? Apakah karena manusia mulai melakukan hubungan seksual? Karena makan buah apel terlarang?

Daripada membuat-buat cerita mengapa begini begitu, atau sekadar percaya gosip, mari langsung melihat Firman Tuhan. Seperti tulisan yang sebelumnya, menurut Firman Tuhan, manusia memutuskan untuk tidak mengikuti peraturan Allah (yang sudah diberitahu sebelumnya, termasuk akibatnya!). Karena keputusan manusia ini, akibatnya:

  1. Rusaknya hubungan manusia dengan Tuhan. Kalau mau dibandingkan Kejadian 3:8-9, bahwa Tuhan sempat-sempatnya berjalan berdampingan dan manusia bisa bertemu langsung, maka akibat dari pemberontakan manusia, kita telah menjauhkan diri kita dari Allah pencipta langit, bumi dan segala isinya. Pada ayat yang sama, bisa kita lihat bahwa Adam dan Hawa menyembunyikan diri mereka sendiri dari Allah!
  2. Rusaknya hubungan sesama manusia. Menurut Kejadian 3:12, manusia mulai saling menyalahkan sesama (tidak mengambil pertanggungjawaban atas kesalahannya sendiri). Mereka juga tidak seintim seperti seharusnya, sebelum mereka memakan buah terlarang, mereka tidak malu bahwa mereka terlanjang di hadapan sesama! Inilah asal mula mengapa kita tidak bisa akur lagi dengan sesama, bahkan sesama suami istri!!!
  3. Rusaknya hubungan manusia dengan alam. Kalau dulu mereka bisa ‘bekerja’ dengan senangnya, tanpa penderitaan di¬†dunia. Setelah kejadian ini, Tuhan telah mengutuk alam sehingga manusia harus bekerja dengan bersusah payah dan penuh penderitaan (Kejadian 3:17-19). Inilah asal mula mengapa kita selalu merasa pekerjaan sebagai ‘beban’. Mengapa sulitnya mendapat job satisfaction!!

Lalu apakah berhenti di sini saja? Untungnya saja tidak, walaupun manusia tidak mampu untuk menyelesaikan masalah ini, Allah sendiri yang menyiapkan rencana penyelamatan. Wah! Apa rencana penyelamatanNya?

Emansipasi Wanita

23 April 2007

Emansipasi wanita di Indonesia, yang dipelopori oleh Ibu Kartini, dan diperingati setiap 21 April setiap tahunnya, telah merubah sejarah Indonesia terutama di kalangan kaum wanita.

Terus terang, saya tidak begitu tahu ceritanya secara mendalam (sejarah bukanlah keahlian saya ūüôā ), namun setelah membaca dari biografi singkatnya, bisa saya rangkumkan (mohon dikoreksi bila ada kesalahan) seperti berikut:

  • Kedudukan wanita secara sosial di masyarakat Indonesia sangatlah rendah pada waktu itu. Contohnya, wanita hanyalah bisa ‘berdiam’ di rumah orang tuanya, dipersiapkan untuk menikah. Setelah menikah, wanita dibawah otoritas suaminya. Pendidikan bukanlah hak para wanita, tugas mereka hanyalah urusan rumah tangga.
  • Kartini mempelopori gerakan emansipasi wanita, contoh: hak wanita dalam pendidikan, otoritas, kedudukan di muka hukum (legalitas), dan banyak lainnya.

Apa pandangan Alkitab terhadap emansipasi ini? Sesuatu hal yang baik atau buruk? Di pandangan masyarakat pada umumnya, emansipasi wanita adalah hal yang sangat baik, apalagi mengingat semua manusia adalah sederajat, tidak memandang ras, agama, maupun jenis kelamin.

Di dalam masalah pendidikan ataupun pekerjaan (karir), Alkitab tidak mempunyai tulisan secara langsung. Tapi, mari kita lihat contoh istri yang bijaksana dari Amsal 31:26-27

“Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya”

Bagaimana mungkin kalau si istri ini bisa menjadi hikmat, tanpa pendidikan yang benar? Sudah jelas, bahwa¬†Firman Tuhan¬†sama sekali tidak menentang pendidikan untuk kaum wanita. Sebaliknya,¬†Firman Tuhan¬†memuji ‘wanita yang bijaksana’!

Bagaimana dalam hal otoritas, atau hak dalam keputusan untuk dirinya sendiri? Contoh kasus:

Si istri telah mencapai puncak karir di dalam tempat bekerjanya. Si suami resah karena rumah tangganya (termasuk anak-anaknya) mulai terbengkalai dengan mereka berdua bekerja full-time. Lalu, si suami memutuskan untuk si istri berhenti bekerja dan mulai mengurus urusan rumah tangga. Si istri keberatan, dan menolak saran dari suaminya. Si istri menekankan akan haknya yang seharusnya setara dalam mengambil keputusan di dalam keluarga. Si istri bersikeras untuk melanjutkan karirnya dan berharap si suami akan mengerti.

Apakah tindakan si istri ini salah? Lagipula, di dalam semangat emansipasi wanita, si istri memang seharusnya mempunyai hak yang sama, bukan begitu?

Mari kita lihat Efesus 5:22-23

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat…”

Menurut Firman Tuhan, hitam di atas putih, memang sepatutnya istri tunduk kepada suami (bukan sebaliknya seperti di kebanyakan rumah tangga!). Juga seperti yang ditekankan dari Amsal 31, istri yang bijaksana akanlah mementingkan kebutuhan rumah tangganya terlebih dahulu, lebih dari keinginan atau ambisi dirinya sendiri.

Wah, berarti Firman Tuhan menentang emansipasi wanita, begitu? Tergantung apa definisi emansipasi tentunya. Kalau kita mendefinisikan emansipasi sebagai menuntut hak untuk pendidikan (atau lainnya), dengan tujuan kepentingan bersama, saya pikir Firman Tuhan justru memuji tindakan ini:

“Janganlah melakukan sesuatu karena didorong kepentingan diri sendiri, atau untuk menyombongkan diri. Sebaliknya hendaklah kalian masing-masing dengan rendah hati menganggap orang lain lebih baik dari diri sendiri” Filipi 2:3

Tetapi, kalau definisi emansipasi itu adalah ‘tiket untuk bebas melakukan apa saja’, apa bedanya dengan emansipasi manusia, yang dipelopori oleh Adam dan Hawa?

Catatan: Konteks tulisan ini adalah di dalam hubungan suami-istri. Untuk yang tidak menikah, argumen di Filipi 2:3 tetaplah berlaku