Rasul Paulus sangat kecewa kepada jemaat di Korintus ketika mereka terpecah belah karena saling iri hati dan perselisihan:

…telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu1 Korintus 1:11

Sebabnya, mereka telah membentuk kelompok dan merasa satu kelompok lebih baik dari yang lain:

Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus1 Korintus 1:12

Kalau kita menempatkan diri kita dengan mereka, tidaklah sulit untuk melihat memang di setiap kelompok ada hal-hal yang bisa dibanggakan. Contoh: Saya sendiri, akan bangga di kelompok Kefas (yaitu Simon Petrus, salah satu murid Tuhan Yesus sendiri!)

Di zaman sekarang, mungkin seakan-akan kita mengatakan:

  1. Denominasi saya paling benar,
  2. Saya menganut aliran Pendeta Stephen Tong, atau Pendeta Gilbert, atau nama besar lainnya,
  3. Teologi Calvinist saya jauh lebih baik dari Arminist-mu
  4. Pengetahuan Alkitab saya jauh lebih dalam dari-mu,
  5. dan lain sebagainya

Lalu, apa yang Rasul Paulus katakan tentang hal ini? Tentunya tidak ada yang salah dalam hal ini? Bukankah kita harus mengejar dan menggunakan teologi yang terbenar?

Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?1 Korintus 3:3

Terus terang saya sangat tersinggung kalau saya dituduh ‘kekanak-kanakan’ atau ‘tidak dewasa’ dalam iman ketika berselisih dan terpecah karena kebenaran teologia, padahal pengetahuan teologia saya cukup dalam tentunya. Tetapi, Rasul Paulus bersikeras untuk hal yang sebaliknya. Karena itu, ia meneliti apa perbedaan antara kelompok mereka, apakah memang benar ada yang sesat?

Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan1 Korintus 3:5-7

Dapat kita simpulkan, ketika kita berselisih dan terpecah karena ‘aliran’ atau teologia semata, Rasul Paulus menyimpulkan kita ‘kekanak-kanakan’, tidak dewasa dalam iman!

Kalau begitu, kita harus bersatu dengan segala cara? Meng-iya-kan dan mengamini segala ajaran? Tentunya bukan ini yang dimaksud oleh Rasul Paulus di dalam suratnya. Ia bahkan bersusah payah menjelaskan dasar gereja Tuhan, bahan bangunan yang terbaik, bak emas, perak dan batu-batu berharga lainnya (1 Korintus 3:11-13) , yaitu Kristus sendiri!

Pertanyaan selanjutnya, apa Kristus itu sendiri? Sekadar menaruh gambar Kristus di gereja? Menyebut namaNya seribu kali? Membangun gedung, paduan suara, kelompok drama di dalam nama Kristus? Apa maksudnya?

Advertisements

Pernah tidak anda penasaran, mengapa kita sebagai manusia sangat perduli terhadap pasangan hidup? Apalagi¬†sewaktu masa puber, kita mulai lirik-lirik dan bahkan merasa punya pacar merupakan sebuah keharusan. Terlebih lagi, setelah punya pacar, rasanya tidak perduli lagi dengan dunia, semua berbunga-bunga dan indah sekali ūüėČ . Walaupun perang nuklir sedang terjadi, yang penting saling memiliki!

Lalu, kalau sampai putus dengan pacarnya, sebaliknya juga terjadi. Dunia rasanya gelap, mati tidak mau tapi hidup pun tak rela, hati seperti ditusuk-tusuk beribu-ribu pedang rasanya. Bahkan, rasa sakit ini tidak jarang berlangsung berbulan-bulan, atau bahkan lebih, kalau mau diingat-ingat lagi.

Kalau mau diadakan survey di dalam masalah pasangan hidup, saya yakin bahwa hampir semua orang akan menempatkan masalah pasangan hidup di dalam prioritas hidup mereka. Dari masalah bagaimana mencari, memilih, dan memiliki pasangan hidup.

Apakah ini hasil dari evolusi? Atau memang ini naluri manusia? Atau memang sudah dari sananya?

Mari, kita lihat kitab Kejadian untuk lihat sejarah, asal-muasal ‘pasangan hidup’:

  1. ¬†Ketika Allah menciptakan dunia beserta segala isinya (hari kesatu sampai keenam), Dia selalu berkata bahwa hasil ciptaanNya itu ‘baik’¬†(Kejadian 1:4, 10, 12, 18, 21, 25 dan 31)
  2. Hanya dalam satu hal saja Allah berkata sesuatu itu tidak baik. Yaitu, waktu Ia melihat bahwa manusia yang diciptakanNya itu sendiri (Kejadian 2:18)
  3. Diciptakanlah perempuan, sebagai ‘penolong yang sepadan’. Sejak ini, Allah menganggap pernikahan adalah hal yang serius, dan mereka menjadi satu daging (asal mula hubungan seksual suami-istri), Kejadian 2:24.

Seperti yang Firman Tuhan katakan, hubungan suami-istri adalah sesuatu yang Tuhan ciptakan, dan merupakan sesuatu hal yang indah (juga hubungan seksual suami-istri)!!!

Wah, pantas saja di kepala kita, dari dahulu, yang dipikirkan bagaimana mencari pasangan hidup! Terlebih lagi, hubungan seksual juga merupakan dari bagian naluri manusia! Masalahnya, kenapa saat ini kenyataannya berbeda?  Mengapa sekarang manusia, bahkan sesama suami-istri saling menyakiti? Hubungan seksual juga menjadi disalahgunakan?

Sayangnya, pemberontakan manusia merusak semuanya (bacaan lebih lanjut di tulisan yang sebelumnya)! Jadi, jangan heran kenapa begini-begitu! Sudah diperingatkan dari awalnya kok!!

“Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka” Roma 1:26-27

Lalu, apa tujuan menikah di dalam Alkitab setelah pemberontakan manusia ini? Saya undang anda untuk membaca seluruh kitab 1 Korintus 7 tentang hal ini, karena saya tidak bisa mengulasnya lebih jelas lagi!

Satu hal, tidak jarang saya mendengar dari saudara seiman di dalam Kristus yang mengatakan, “Wah, sudah punya calon belum? Kapan menikahnya? Kalau belum, mari saya doakan agar cepat-cepat mendapat jodoh!”. Lho? Tujuan hidup untuk mendapat jodoh atau pasangan hidup begitu? Sekali lagi, mari saya undang anda untuk membaca 1 Korintus 7 ini secara keseluruhan!!!

Kesimpulan: Menikah atau tidak menikah bukanlah pertanyaannya!! Tetapi, bagaimana menjalankan kehidupan saya untuk taat kepadaNya!! Kalau memang bisa single, ya jalanilah hidup itu dengan taat. Kalau tidak bisa, ya menikahlah!

Pernah tidak anda berpikir, mengapa anak kecil, yang tidak perlu diajari untuk menjadi egois, bisa egois? Contoh: Tidak sulit untuk melihat antara dua (atau lebih) anak kecil saling bertengkar untuk memperebutkan sebuah mainan. Padahal mereka sudah diajarkan dari kecil untuk saling berbagi, tapi tetap saja mereka bertingkah seperti demikian.

Masalahnya, di dunia orang dewasa lebih parah lagi. Sepasang suami-istri kok bisa bertengkar pada masalah sepele? Saudara sekandung bisa bertengkar atas masalah uang? Di dunia perpolitikan apa lagi, bisa-bisanya mereka saling sikut-menyikut (tidak jarang saling membunuh) untuk mendapat posisi teratas. Manusia bisa saling membenci (sampai membunuh) hanya karena beda agama, warna kulit, ras, atau masalah sepele lainnya. Tidak perlu jauh-jauh, di kehidupan sehari-hari misalnya, betapa menjengkelkan begitu banyak orang yang tidak patuh peraturan dan disiplin, membuat jalan macet! Dunia ini kok dipenuhi orang egois sih?

Bukan saja antara sesama, bahkan dengan alam sekitar. Mengapa bisa ada banjir, gempa bumi, tsunami, penyakit, dan semua yang mengakibatkan penderitaan ini? Kalau memang Tuhan itu ada, berarti Tuhan itu tidak adil, karena Dia mengizinkan semuanya ini terjadi (boleh saya dengar dari komentar orang banyak)! 

Lalu, apa yang Firman Tuhan katakan? Apakah Tuhan itu iseng menambah semua penderitaan ini, untuk menguji manusia semata? Atau ada alasan lain? Mari kita lihat sejarah penciptaan dunia dari Kejadian 1 & 2. Dari buku ini, bisa kita lihat bahwa hal-hal yang disebut di atas belum ada di dunia. Bisa juga dilihat, ada pola yang konsisten setiap saat Allah selesai mengerjakan sesuatu setiap harinya:

“Allah melihat bahwa semuanya itu baik” Kejadian 1:4, 10, 12, 18, 21, 25, 31

Kesimpulan, dunia ini pertama kali diciptakan dalam keadaan sempurna! Tidak ada penderitaan, fitnah, luka, ataupun penderitaan lainnya yang kita alami pada saat sekarang. Lalu, apa yang membuat dunia ini berubah? Apakah karena manusia mulai melakukan hubungan seksual? Karena makan buah apel terlarang?

Daripada membuat-buat cerita mengapa begini begitu, atau sekadar percaya gosip, mari langsung melihat Firman Tuhan. Seperti tulisan yang sebelumnya, menurut Firman Tuhan, manusia memutuskan untuk tidak mengikuti peraturan Allah (yang sudah diberitahu sebelumnya, termasuk akibatnya!). Karena keputusan manusia ini, akibatnya:

  1. Rusaknya hubungan manusia dengan Tuhan. Kalau mau dibandingkan Kejadian 3:8-9, bahwa Tuhan sempat-sempatnya berjalan berdampingan dan manusia bisa bertemu langsung, maka akibat dari pemberontakan manusia, kita telah menjauhkan diri kita dari Allah pencipta langit, bumi dan segala isinya. Pada ayat yang sama, bisa kita lihat bahwa Adam dan Hawa menyembunyikan diri mereka sendiri dari Allah!
  2. Rusaknya hubungan sesama manusia. Menurut Kejadian 3:12, manusia mulai saling menyalahkan sesama (tidak mengambil pertanggungjawaban atas kesalahannya sendiri). Mereka juga tidak seintim seperti seharusnya, sebelum mereka memakan buah terlarang, mereka tidak malu bahwa mereka terlanjang di hadapan sesama! Inilah asal mula mengapa kita tidak bisa akur lagi dengan sesama, bahkan sesama suami istri!!!
  3. Rusaknya hubungan manusia dengan alam. Kalau dulu mereka bisa ‘bekerja’ dengan senangnya, tanpa penderitaan di¬†dunia. Setelah kejadian ini, Tuhan telah mengutuk alam sehingga manusia harus bekerja dengan bersusah payah dan penuh penderitaan (Kejadian 3:17-19). Inilah asal mula mengapa kita selalu merasa pekerjaan sebagai ‘beban’. Mengapa sulitnya mendapat job satisfaction!!

Lalu apakah berhenti di sini saja? Untungnya saja tidak, walaupun manusia tidak mampu untuk menyelesaikan masalah ini, Allah sendiri yang menyiapkan rencana penyelamatan. Wah! Apa rencana penyelamatanNya?

Emansipasi Wanita

23 April 2007

Emansipasi wanita di Indonesia, yang dipelopori oleh Ibu Kartini, dan diperingati setiap 21 April setiap tahunnya, telah merubah sejarah Indonesia terutama di kalangan kaum wanita.

Terus terang, saya tidak begitu tahu ceritanya secara mendalam (sejarah bukanlah keahlian saya ūüôā ), namun setelah membaca dari biografi singkatnya, bisa saya rangkumkan (mohon dikoreksi bila ada kesalahan) seperti berikut:

  • Kedudukan wanita secara sosial di masyarakat Indonesia sangatlah rendah pada waktu itu. Contohnya, wanita hanyalah bisa ‘berdiam’ di rumah orang tuanya, dipersiapkan untuk menikah. Setelah menikah, wanita dibawah otoritas suaminya. Pendidikan bukanlah hak para wanita, tugas mereka hanyalah urusan rumah tangga.
  • Kartini mempelopori gerakan emansipasi wanita, contoh: hak wanita dalam pendidikan, otoritas, kedudukan di muka hukum (legalitas), dan banyak lainnya.

Apa pandangan Alkitab terhadap emansipasi ini? Sesuatu hal yang baik atau buruk? Di pandangan masyarakat pada umumnya, emansipasi wanita adalah hal yang sangat baik, apalagi mengingat semua manusia adalah sederajat, tidak memandang ras, agama, maupun jenis kelamin.

Di dalam masalah pendidikan ataupun pekerjaan (karir), Alkitab tidak mempunyai tulisan secara langsung. Tapi, mari kita lihat contoh istri yang bijaksana dari Amsal 31:26-27

“Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya”

Bagaimana mungkin kalau si istri ini bisa menjadi hikmat, tanpa pendidikan yang benar? Sudah jelas, bahwa¬†Firman Tuhan¬†sama sekali tidak menentang pendidikan untuk kaum wanita. Sebaliknya,¬†Firman Tuhan¬†memuji ‘wanita yang bijaksana’!

Bagaimana dalam hal otoritas, atau hak dalam keputusan untuk dirinya sendiri? Contoh kasus:

Si istri telah mencapai puncak karir di dalam tempat bekerjanya. Si suami resah karena rumah tangganya (termasuk anak-anaknya) mulai terbengkalai dengan mereka berdua bekerja full-time. Lalu, si suami memutuskan untuk si istri berhenti bekerja dan mulai mengurus urusan rumah tangga. Si istri keberatan, dan menolak saran dari suaminya. Si istri menekankan akan haknya yang seharusnya setara dalam mengambil keputusan di dalam keluarga. Si istri bersikeras untuk melanjutkan karirnya dan berharap si suami akan mengerti.

Apakah tindakan si istri ini salah? Lagipula, di dalam semangat emansipasi wanita, si istri memang seharusnya mempunyai hak yang sama, bukan begitu?

Mari kita lihat Efesus 5:22-23

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat…”

Menurut Firman Tuhan, hitam di atas putih, memang sepatutnya istri tunduk kepada suami (bukan sebaliknya seperti di kebanyakan rumah tangga!). Juga seperti yang ditekankan dari Amsal 31, istri yang bijaksana akanlah mementingkan kebutuhan rumah tangganya terlebih dahulu, lebih dari keinginan atau ambisi dirinya sendiri.

Wah, berarti Firman Tuhan menentang emansipasi wanita, begitu? Tergantung apa definisi emansipasi tentunya. Kalau kita mendefinisikan emansipasi sebagai menuntut hak untuk pendidikan (atau lainnya), dengan tujuan kepentingan bersama, saya pikir Firman Tuhan justru memuji tindakan ini:

“Janganlah melakukan sesuatu karena didorong kepentingan diri sendiri, atau untuk menyombongkan diri. Sebaliknya hendaklah kalian masing-masing dengan rendah hati menganggap orang lain lebih baik dari diri sendiri” Filipi 2:3

Tetapi, kalau definisi emansipasi itu adalah ‘tiket untuk bebas melakukan apa saja’, apa bedanya dengan emansipasi manusia, yang dipelopori oleh Adam dan Hawa?

Catatan: Konteks tulisan ini adalah di dalam hubungan suami-istri. Untuk yang tidak menikah, argumen di Filipi 2:3 tetaplah berlaku

Sebagian besar dari pembaca tentunya ingat iklan “Tanya kenapa, tanya kenapa” dari A-Mild (versi polisi ngumpet). Pertama kali saya lihat iklan tersebut, saya tidak bisa berhenti tertawa sendiri. Bukan hanya iklan itu menarik dan lucu, tetapi benar-benar menggelitik hati karena menyinggung setiap diri kita sendiri! Memang benar bahwa kita hanya patuh kalau ada yang melihat, coba, tanya kenapa?

Tanya Kenapa

Bagi yang tidak tahu iklan tersebut, bisa disingkat seperti berikut (sayangnya cuplikan videonya tidak bisa saya temukan di Internet ūüė¶ ):

  1. Seorang gadis muda sedang menyetir dan ingin memutar balik ke arah yang berlainan
  2. Masalahnya ada rambu lalu lintas yang melarangnya untuk memutar balik
  3. Gadis muda tersebut melihat sekelilingnya untuk melihat keberadaan polisi atau tidak
  4. Melihat tidak ada polisi, gadis ini lalu memutar balik
  5. Tiba-tiba seorang polisi (menyamar sebagai semak belukar) memberhentikan si gadis ini

Yang benar-benar mengena ke hati saya adalah adegan berikutnya:

Polisi: “Siang mbak… Ngak lihat rambunya?”

Gadis: “Lihat kok

Polisi: “Lalu kenapa masih dilanggar?”

Gadis: “Kan… ngak ada yang jaga” (sambil senyum-senyum innocent)

Memang betul toh kita hanya patuh kalau ada yang jaga? Tapi, pernah berpikir tidak, kenapa sebenarnya setiap dari kita punya mentalitas seperti ini. Tidak hanya orang Indonesia sendiri, yang memang terkenal tidak berdisiplin, tapi setiap kebudayaan mempunyai mentalitas seperti ini, dengan tingkat keparahan yang berbeda tentunya ūüôā

Ternyata, mentalitas ini adalah penyakit dari setiap manusia. Lho? Penyakit? Apa maksudnya? Mari, kita selidiki dari sejarah, sejak kapan penyakit ini mulai menjangkiti manusia…

Dari tulisan yang sebelumnya, Alkitab mengatakan Allah menciptakan dunia ini beserta segala isinya, dan kita (manusia) ditunjuk menjadi penguasa dunia dibawah Allah. Dia pun sudah menetapkan peraturan:

¬†“tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”, Kejadian 2:17

Tentunya, manusia menganggap remeh peraturan ini, dan melanggarnya:

“…buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian”, Kejadian 3:6

Sejak itu, hubungan manusia dengan Tuhan, sesama dan mahluk ciptaanNya telah rusak (akan saya jelaskan lebih jauh di tulisan berikutnya)

Kesimpulan, ketidak mampuan kita didalam mematuhi peraturan bukanlah penyakit yang baru. Kita bisa mencoba menjelaskan fenomena ini dari berbagai macam sudut pandang, tapi pada dasarnya, kita manusia egois. Maunya mengikuti aturan sendiri, tidak peduli dengan yang lain, yang penting saya, saya dan saya lagi!!