Tidak sedikit dari kalangan orang kristen, sering menambah ungkapan “semoga Tuhan memberkati” atau “kalau Tuhan menghendaki” di dalam ungkapan mereka. Contoh:

  • “Saya baru saja melamar pekerjaan di perusahaan ‘A’, semoga Tuhan memberkati
  • Kalau Tuhan menghendaki, proposal bisnis saya akan berjalan lancar”
  • “Kami akan menikah beberapa bulan ke depan, semoga Tuhan memberkati
  • “Kalau Tuhan menghendaki, saya akan sembuh dari penyakit ini”

Tentunya, ungkapan ini baik karena mengungkapkan kerendah hatian kita bahwa semuanya memang datang dari Tuhan. Bahkan Alkitab pun menunjukkan ke hal yang sama:

Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4:15

Jadi, memang tidak salah kan, kalau saya berharap Tuhan mengabulkan rencana atau permintaan saya untuk ini dan itu? Ditambah lagi, saya sudah berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti peraturan dan menjauhi larangan-Nya. Lagipula, tidaklah sulit sama sekali, untuk Tuhan yang sudah menciptakan langit, bumi dan beserta segala isinya, untuk mengabulkan permintaan yang sederhana ini?

Yesus sendiri juga menjanjikan berkat yang berlimpah:

“Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” Matius 6:31-33

Sekarang, pertanyaannya adalah: Apa memang benar bahwa Tuhan itu ada untuk memenuhi atau memberkati hidup saya?. Wah, apa bedanya sama si ‘Aladdin dengan lampu ajaibnya’? Enak sekali punya Tuhan yang bisa menanggapi kemauan saya! Apakah betul begitu? Apa kehendak Tuhan yang sebenarnya??

“…supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Filipi 2:10-11

Tapi itu tidak menjawab pertanyaan saya! Apa kehendak Tuhan dengan pekerjaan atau karir saya? Pasangan hidup dan keluarga saya? Liburan saya? Rumah tinggal saya? …

Sekali lagi, sebagai pengikut Yesus, marilah kita ingat, kita bukan Tuhan, tetapi Yesus. Akibat dari pernyataan ini adalah:

  • Hidup ini bukanlah semata agar karir saya menjulang tinggi, atau
  • Mencari suami/istri yang sempurna, atau
  • Rumah yang besar, atau lain-lainnya
  • Melainkan untuk melayani Tuhan dan sesama!

“Janganlah melakukan sesuatu karena didorong kepentingan diri sendiri, atau untuk menyombongkan diri. Sebaliknya hendaklah kalian masing-masing dengan rendah hati menganggap orang lain lebih baik dari diri sendiri” Filipi 2:3

Jadi, kita tidak boleh memiliki karir, pasangan hidup atau rumah yang sempurna begitu??

Tentu saja tidak benar. Melainkan, kalau memang Tuhan memberkati kita dengan bentuk apa pun juga, marilah kita menggunakannya untuk melayani orang lain! Contoh:

  • Jika kita memegang posisi penting di dalam bisnis atau pekerjaan, marilah kita bertindak adil kepada pegawai dan sesama
  • Hidup ini bukan bertujuan untuk mencari pasangan hidup yang sempurna, untuk lebih lanjut, lihatlah tulisan yang sebelumnya
  • Jika kita diberkati secara finansial, gunakanlah untuk membantu fakir miskin dan pekerjaan Tuhan

Intinya, kita diselamatkan untuk melayani!

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya” Efesus 2:10

Apa Kekristenan Itu?

19 April 2007

Kalau anda bertanya kepada orang kristen, “Mengapa anda menjadi Kristen / Pengikut Yesus?”, apa yang biasanya mereka jawab?

Biasanya orang menjawab:

  1. “Saya dibesarkan di keluarga atau lingkungan Kristen”
  2. “Saya mengikuti tradisi keluarga atau teman-teman”
  3. “Agar hidup saya tenang/terberkati”
  4. “Karena Yesus adalah juru selamat satu-satunya”

Tidak jarang saya menemui orang kristen yang mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan yang sangat sederhana ini. Karena tidak sedikit dari kalangan orang Kristen sendiri yang tidak begitu mengerti apa arti kekristenan itu!

Lalu, bagaimana untuk mencari jawaban yang benar untuk pertanyaan tersebut? Ya, di Alkitab!! Saya menemukan ringkasan iman kekristenan yang sangat baik dari internet, namanya “2 ways 2 live”. Formatnya sangatlah menarik, dan sangat baik dalam menjawab: “Apa sih kekristenan itu?”

  1. God is loving rulerAllah adalah pencipta dunia dan segala isinya, dan telah menempatkan kita sebagai penguasa dunia dibawah kekuasaan-Nya
  2. God rejectedKita semua telah menolakNya sebagai penguasa dunia dengan mencoba untuk menjalani hidup kita tanpa-Nya. Tetapi, kita telah gagal untuk menguasai kehidupan kita, sekitar kita, dan dunia.
  3. DeathTuhan tidak akan membiarkan kita memberontak untuk selama-lamanya, melainkan, hukuman untuk pemberontakan ini adalah kematian dan penghakiman.
  4. Jesus ChristKarena kasihNya, Allah telah mengirim anakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Yesus selalu hidup dibawah hukum Allah, tetapi dengan mati untuk manusia, dia mengambil hukuman manusia dan membawa pengampunan untuk manusia.
  5. Jesus raisedAllah membangkitkan Yesus kembali sebagai penguasa dunia. Yesus sudah menguasai kematian, dan sekarang memberi kehidupan, akan kembali lagi untuk menghakimi manusia.
  6. 2 ways 2 liveHanya ada 2 cara untuk hidup: Cara kita (menolak Allah sebagai penguasa dengan menjalankan hidup kita tanpaNya, akibatnya dihukum oleh Allah dengan kematian dan penghakiman), atau cara Allah (tunduk kepada Yesus sebagai penguasa kehidupan kita, dengan bersandar pada kematian dan kebangkitan-Nya, akibatnya diampuni oleh Allah dan diberikan hidup kekal!

Kesimpulan, untuk menjawab pertanyaan sederhana ini, “apa kekristenan itu”, marilah kita kembali kepada sumbernya, Firman Tuhan itu sendiri. Bukan dari ‘cerita-cerita’ atau ‘analogi’ semata!

Kalau memang Tuhan itu sudah memperkenalkan diriNya sendiri (untuk bagaimana mengetahui Tuhan yang mana, lihat tulisan sebelumnya), memang kenapa? Apa akibat atau konsekuensi dari kita mengenal atau tidak mengenal Tuhan ini?

Seperti tulisan saya yang pertama, mungkin bisa saya tambahkan juga, tanggapan kita bisa di-generalisasi-kan seperti berikut:

  1. “Wah, saya sudah dibesarkan di keluarga yang saleh dan beragama, jadi saya sudah mengenal Tuhan sejak kecil”
  2. “Saya sih sekarang sudah dewasa dan bisa berpikir sendiri, jadi ‘tuhan-tuhanan’ dan agama bukan untuk saya, yang penting hidup yang benar saja lah!! Beragama itu bagus, hanya untuk meningkatkan moral, cukup segitu saja lah!”
  3. “Wah, agama itu buatan manusia, orang yang terpelajar tentunya tahu itu!! ”
  4. “‘Banyak jalan menuju ke Roma’, begitu juga dengan agama, Tuhan yang mana saja akan berakhir di jalan yang benar!”

Tentunya banyak dari kita bisa dikategorikan di antara 4-poin di atas. Kategori apa kita saat ini, mungkin tidak sepenting apa akibat dari keputusan kita saat ini terhadap ‘ketuhanan’. Contoh:

Saat ini presiden Indonesia adalah si ‘SBY’. Apa akibatnya dari:

  1. “Saya sudah tahu dari kecil memang presiden itu ada!”, akibatnya: selama kita tahu bahwa si ‘SBY’ adalah presiden yang sah dan mengikuti peraturan kenegaraan-nya, sepertinya kita hidup tenang-tenang saja 🙂 .
  2. “Saya sekarang sudah dewasa, dan bisa berpikir sendiri, banyak peraturan di negara ini yang saya tidak setuju! Contohnya: saya bisa mengemudi seenak hati di jalan raya!”, akibatnya: kena tilang dari pak polisi deh!
  3. “Wah, presiden itu kan buatan rakyat, semua juga tahu itu, sedangkan saya tidak setuju dengan rakyat banyak! Contoh: Saya maunya mengemudi seenak hati di jalan raya!!”, akibatnya: kena tilang dari pak polisi lagi deh!
  4. “‘Banyak jalan menuju ke Roma’, begitu juga dengan peraturan negara, saya presiden di rumah dan kampung saya sendiri kok! Sehingga saya bisa mengikuti peraturan saya sendiri, sama saja kan! Contoh: saya bisa mengemudi seenak hati di jalan kampung!”, akibatnya: kalau memang tidak ada polisi di kampung, tapi jadinya menabrak orang, wah wah!!

Nah, sekarang bagaimana dengan ‘Tuhan’? Kalau memang ‘Tuhan’ yang sudah memperkenalkan diriNya sendiri memang berkata “Aku seperti polisi lalu-lintas, dan akibat dari melanggar peraturanKu adalah surat tilang!”. Wah, terus terang kita bisa lega, karena membayar tilang tidaklah begitu parah 😀 !

Masalahnya, bagaimana kalau ‘Tuhan’ ini sudah menetapkan peraturanNya, “PeraturanKu begini begitu, kalau kau melanggarNya, akibatnya adalah kau akan menderita beribu-ribu tahun!!”. Wah wah, kalau memang peraturanNya begitu keras, bukankah kita akan lebih serius untuk mau mengenal ‘Tuhan’ ini, karena kita takut akan konsekuensinya??

Kesimpulan: keputusan yang kita ambil harusnya berdasarkan akibat atau konsekuensi, dan bukanlah emosi semata (termasuk pendapat pribadi), setuju? Jadi, kalau memang ada ‘Tuhan’ yang telah menetapkan peraturanNya dengan konsekuensi yang dahsyat, bukankah kita mau mengenalNya lebih jauh??