Pernah tidak anda penasaran, mengapa kita sebagai manusia sangat perduli terhadap pasangan hidup? Apalagi¬†sewaktu masa puber, kita mulai lirik-lirik dan bahkan merasa punya pacar merupakan sebuah keharusan. Terlebih lagi, setelah punya pacar, rasanya tidak perduli lagi dengan dunia, semua berbunga-bunga dan indah sekali ūüėČ . Walaupun perang nuklir sedang terjadi, yang penting saling memiliki!

Lalu, kalau sampai putus dengan pacarnya, sebaliknya juga terjadi. Dunia rasanya gelap, mati tidak mau tapi hidup pun tak rela, hati seperti ditusuk-tusuk beribu-ribu pedang rasanya. Bahkan, rasa sakit ini tidak jarang berlangsung berbulan-bulan, atau bahkan lebih, kalau mau diingat-ingat lagi.

Kalau mau diadakan survey di dalam masalah pasangan hidup, saya yakin bahwa hampir semua orang akan menempatkan masalah pasangan hidup di dalam prioritas hidup mereka. Dari masalah bagaimana mencari, memilih, dan memiliki pasangan hidup.

Apakah ini hasil dari evolusi? Atau memang ini naluri manusia? Atau memang sudah dari sananya?

Mari, kita lihat kitab Kejadian untuk lihat sejarah, asal-muasal ‘pasangan hidup’:

  1. ¬†Ketika Allah menciptakan dunia beserta segala isinya (hari kesatu sampai keenam), Dia selalu berkata bahwa hasil ciptaanNya itu ‘baik’¬†(Kejadian 1:4, 10, 12, 18, 21, 25 dan 31)
  2. Hanya dalam satu hal saja Allah berkata sesuatu itu tidak baik. Yaitu, waktu Ia melihat bahwa manusia yang diciptakanNya itu sendiri (Kejadian 2:18)
  3. Diciptakanlah perempuan, sebagai ‘penolong yang sepadan’. Sejak ini, Allah menganggap pernikahan adalah hal yang serius, dan mereka menjadi satu daging (asal mula hubungan seksual suami-istri), Kejadian 2:24.

Seperti yang Firman Tuhan katakan, hubungan suami-istri adalah sesuatu yang Tuhan ciptakan, dan merupakan sesuatu hal yang indah (juga hubungan seksual suami-istri)!!!

Wah, pantas saja di kepala kita, dari dahulu, yang dipikirkan bagaimana mencari pasangan hidup! Terlebih lagi, hubungan seksual juga merupakan dari bagian naluri manusia! Masalahnya, kenapa saat ini kenyataannya berbeda?  Mengapa sekarang manusia, bahkan sesama suami-istri saling menyakiti? Hubungan seksual juga menjadi disalahgunakan?

Sayangnya, pemberontakan manusia merusak semuanya (bacaan lebih lanjut di tulisan yang sebelumnya)! Jadi, jangan heran kenapa begini-begitu! Sudah diperingatkan dari awalnya kok!!

“Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka” Roma 1:26-27

Lalu, apa tujuan menikah di dalam Alkitab setelah pemberontakan manusia ini? Saya undang anda untuk membaca seluruh kitab 1 Korintus 7 tentang hal ini, karena saya tidak bisa mengulasnya lebih jelas lagi!

Satu hal, tidak jarang saya mendengar dari saudara seiman di dalam Kristus yang mengatakan, “Wah, sudah punya calon belum? Kapan menikahnya? Kalau belum, mari saya doakan agar cepat-cepat mendapat jodoh!”. Lho? Tujuan hidup untuk mendapat jodoh atau pasangan hidup begitu? Sekali lagi, mari saya undang anda untuk membaca 1 Korintus 7 ini secara keseluruhan!!!

Kesimpulan: Menikah atau tidak menikah bukanlah pertanyaannya!! Tetapi, bagaimana menjalankan kehidupan saya untuk taat kepadaNya!! Kalau memang bisa single, ya jalanilah hidup itu dengan taat. Kalau tidak bisa, ya menikahlah!

Advertisements

Pernah tidak anda berpikir, mengapa anak kecil, yang tidak perlu diajari untuk menjadi egois, bisa egois? Contoh: Tidak sulit untuk melihat antara dua (atau lebih) anak kecil saling bertengkar untuk memperebutkan sebuah mainan. Padahal mereka sudah diajarkan dari kecil untuk saling berbagi, tapi tetap saja mereka bertingkah seperti demikian.

Masalahnya, di dunia orang dewasa lebih parah lagi. Sepasang suami-istri kok bisa bertengkar pada masalah sepele? Saudara sekandung bisa bertengkar atas masalah uang? Di dunia perpolitikan apa lagi, bisa-bisanya mereka saling sikut-menyikut (tidak jarang saling membunuh) untuk mendapat posisi teratas. Manusia bisa saling membenci (sampai membunuh) hanya karena beda agama, warna kulit, ras, atau masalah sepele lainnya. Tidak perlu jauh-jauh, di kehidupan sehari-hari misalnya, betapa menjengkelkan begitu banyak orang yang tidak patuh peraturan dan disiplin, membuat jalan macet! Dunia ini kok dipenuhi orang egois sih?

Bukan saja antara sesama, bahkan dengan alam sekitar. Mengapa bisa ada banjir, gempa bumi, tsunami, penyakit, dan semua yang mengakibatkan penderitaan ini? Kalau memang Tuhan itu ada, berarti Tuhan itu tidak adil, karena Dia mengizinkan semuanya ini terjadi (boleh saya dengar dari komentar orang banyak)! 

Lalu, apa yang Firman Tuhan katakan? Apakah Tuhan itu iseng menambah semua penderitaan ini, untuk menguji manusia semata? Atau ada alasan lain? Mari kita lihat sejarah penciptaan dunia dari Kejadian 1 & 2. Dari buku ini, bisa kita lihat bahwa hal-hal yang disebut di atas belum ada di dunia. Bisa juga dilihat, ada pola yang konsisten setiap saat Allah selesai mengerjakan sesuatu setiap harinya:

“Allah melihat bahwa semuanya itu baik” Kejadian 1:4, 10, 12, 18, 21, 25, 31

Kesimpulan, dunia ini pertama kali diciptakan dalam keadaan sempurna! Tidak ada penderitaan, fitnah, luka, ataupun penderitaan lainnya yang kita alami pada saat sekarang. Lalu, apa yang membuat dunia ini berubah? Apakah karena manusia mulai melakukan hubungan seksual? Karena makan buah apel terlarang?

Daripada membuat-buat cerita mengapa begini begitu, atau sekadar percaya gosip, mari langsung melihat Firman Tuhan. Seperti tulisan yang sebelumnya, menurut Firman Tuhan, manusia memutuskan untuk tidak mengikuti peraturan Allah (yang sudah diberitahu sebelumnya, termasuk akibatnya!). Karena keputusan manusia ini, akibatnya:

  1. Rusaknya hubungan manusia dengan Tuhan. Kalau mau dibandingkan Kejadian 3:8-9, bahwa Tuhan sempat-sempatnya berjalan berdampingan dan manusia bisa bertemu langsung, maka akibat dari pemberontakan manusia, kita telah menjauhkan diri kita dari Allah pencipta langit, bumi dan segala isinya. Pada ayat yang sama, bisa kita lihat bahwa Adam dan Hawa menyembunyikan diri mereka sendiri dari Allah!
  2. Rusaknya hubungan sesama manusia. Menurut Kejadian 3:12, manusia mulai saling menyalahkan sesama (tidak mengambil pertanggungjawaban atas kesalahannya sendiri). Mereka juga tidak seintim seperti seharusnya, sebelum mereka memakan buah terlarang, mereka tidak malu bahwa mereka terlanjang di hadapan sesama! Inilah asal mula mengapa kita tidak bisa akur lagi dengan sesama, bahkan sesama suami istri!!!
  3. Rusaknya hubungan manusia dengan alam. Kalau dulu mereka bisa ‘bekerja’ dengan senangnya, tanpa penderitaan di¬†dunia. Setelah kejadian ini, Tuhan telah mengutuk alam sehingga manusia harus bekerja dengan bersusah payah dan penuh penderitaan (Kejadian 3:17-19). Inilah asal mula mengapa kita selalu merasa pekerjaan sebagai ‘beban’. Mengapa sulitnya mendapat job satisfaction!!

Lalu apakah berhenti di sini saja? Untungnya saja tidak, walaupun manusia tidak mampu untuk menyelesaikan masalah ini, Allah sendiri yang menyiapkan rencana penyelamatan. Wah! Apa rencana penyelamatanNya?

Emansipasi Wanita

23 April 2007

Emansipasi wanita di Indonesia, yang dipelopori oleh Ibu Kartini, dan diperingati setiap 21 April setiap tahunnya, telah merubah sejarah Indonesia terutama di kalangan kaum wanita.

Terus terang, saya tidak begitu tahu ceritanya secara mendalam (sejarah bukanlah keahlian saya ūüôā ), namun setelah membaca dari biografi singkatnya, bisa saya rangkumkan (mohon dikoreksi bila ada kesalahan) seperti berikut:

  • Kedudukan wanita secara sosial di masyarakat Indonesia sangatlah rendah pada waktu itu. Contohnya, wanita hanyalah bisa ‘berdiam’ di rumah orang tuanya, dipersiapkan untuk menikah. Setelah menikah, wanita dibawah otoritas suaminya. Pendidikan bukanlah hak para wanita, tugas mereka hanyalah urusan rumah tangga.
  • Kartini mempelopori gerakan emansipasi wanita, contoh: hak wanita dalam pendidikan, otoritas, kedudukan di muka hukum (legalitas), dan banyak lainnya.

Apa pandangan Alkitab terhadap emansipasi ini? Sesuatu hal yang baik atau buruk? Di pandangan masyarakat pada umumnya, emansipasi wanita adalah hal yang sangat baik, apalagi mengingat semua manusia adalah sederajat, tidak memandang ras, agama, maupun jenis kelamin.

Di dalam masalah pendidikan ataupun pekerjaan (karir), Alkitab tidak mempunyai tulisan secara langsung. Tapi, mari kita lihat contoh istri yang bijaksana dari Amsal 31:26-27

“Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya”

Bagaimana mungkin kalau si istri ini bisa menjadi hikmat, tanpa pendidikan yang benar? Sudah jelas, bahwa¬†Firman Tuhan¬†sama sekali tidak menentang pendidikan untuk kaum wanita. Sebaliknya,¬†Firman Tuhan¬†memuji ‘wanita yang bijaksana’!

Bagaimana dalam hal otoritas, atau hak dalam keputusan untuk dirinya sendiri? Contoh kasus:

Si istri telah mencapai puncak karir di dalam tempat bekerjanya. Si suami resah karena rumah tangganya (termasuk anak-anaknya) mulai terbengkalai dengan mereka berdua bekerja full-time. Lalu, si suami memutuskan untuk si istri berhenti bekerja dan mulai mengurus urusan rumah tangga. Si istri keberatan, dan menolak saran dari suaminya. Si istri menekankan akan haknya yang seharusnya setara dalam mengambil keputusan di dalam keluarga. Si istri bersikeras untuk melanjutkan karirnya dan berharap si suami akan mengerti.

Apakah tindakan si istri ini salah? Lagipula, di dalam semangat emansipasi wanita, si istri memang seharusnya mempunyai hak yang sama, bukan begitu?

Mari kita lihat Efesus 5:22-23

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat…”

Menurut Firman Tuhan, hitam di atas putih, memang sepatutnya istri tunduk kepada suami (bukan sebaliknya seperti di kebanyakan rumah tangga!). Juga seperti yang ditekankan dari Amsal 31, istri yang bijaksana akanlah mementingkan kebutuhan rumah tangganya terlebih dahulu, lebih dari keinginan atau ambisi dirinya sendiri.

Wah, berarti Firman Tuhan menentang emansipasi wanita, begitu? Tergantung apa definisi emansipasi tentunya. Kalau kita mendefinisikan emansipasi sebagai menuntut hak untuk pendidikan (atau lainnya), dengan tujuan kepentingan bersama, saya pikir Firman Tuhan justru memuji tindakan ini:

“Janganlah melakukan sesuatu karena didorong kepentingan diri sendiri, atau untuk menyombongkan diri. Sebaliknya hendaklah kalian masing-masing dengan rendah hati menganggap orang lain lebih baik dari diri sendiri” Filipi 2:3

Tetapi, kalau definisi emansipasi itu adalah ‘tiket untuk bebas melakukan apa saja’, apa bedanya dengan emansipasi manusia, yang dipelopori oleh Adam dan Hawa?

Catatan: Konteks tulisan ini adalah di dalam hubungan suami-istri. Untuk yang tidak menikah, argumen di Filipi 2:3 tetaplah berlaku

Sebagian besar dari pembaca tentunya ingat iklan “Tanya kenapa, tanya kenapa” dari A-Mild (versi polisi ngumpet). Pertama kali saya lihat iklan tersebut, saya tidak bisa berhenti tertawa sendiri. Bukan hanya iklan itu menarik dan lucu, tetapi benar-benar menggelitik hati karena menyinggung setiap diri kita sendiri! Memang benar bahwa kita hanya patuh kalau ada yang melihat, coba, tanya kenapa?

Tanya Kenapa

Bagi yang tidak tahu iklan tersebut, bisa disingkat seperti berikut (sayangnya cuplikan videonya tidak bisa saya temukan di Internet ūüė¶ ):

  1. Seorang gadis muda sedang menyetir dan ingin memutar balik ke arah yang berlainan
  2. Masalahnya ada rambu lalu lintas yang melarangnya untuk memutar balik
  3. Gadis muda tersebut melihat sekelilingnya untuk melihat keberadaan polisi atau tidak
  4. Melihat tidak ada polisi, gadis ini lalu memutar balik
  5. Tiba-tiba seorang polisi (menyamar sebagai semak belukar) memberhentikan si gadis ini

Yang benar-benar mengena ke hati saya adalah adegan berikutnya:

Polisi: “Siang mbak… Ngak lihat rambunya?”

Gadis: “Lihat kok

Polisi: “Lalu kenapa masih dilanggar?”

Gadis: “Kan… ngak ada yang jaga” (sambil senyum-senyum innocent)

Memang betul toh kita hanya patuh kalau ada yang jaga? Tapi, pernah berpikir tidak, kenapa sebenarnya setiap dari kita punya mentalitas seperti ini. Tidak hanya orang Indonesia sendiri, yang memang terkenal tidak berdisiplin, tapi setiap kebudayaan mempunyai mentalitas seperti ini, dengan tingkat keparahan yang berbeda tentunya ūüôā

Ternyata, mentalitas ini adalah penyakit dari setiap manusia. Lho? Penyakit? Apa maksudnya? Mari, kita selidiki dari sejarah, sejak kapan penyakit ini mulai menjangkiti manusia…

Dari tulisan yang sebelumnya, Alkitab mengatakan Allah menciptakan dunia ini beserta segala isinya, dan kita (manusia) ditunjuk menjadi penguasa dunia dibawah Allah. Dia pun sudah menetapkan peraturan:

¬†“tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”, Kejadian 2:17

Tentunya, manusia menganggap remeh peraturan ini, dan melanggarnya:

“…buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian”, Kejadian 3:6

Sejak itu, hubungan manusia dengan Tuhan, sesama dan mahluk ciptaanNya telah rusak (akan saya jelaskan lebih jauh di tulisan berikutnya)

Kesimpulan, ketidak mampuan kita didalam mematuhi peraturan bukanlah penyakit yang baru. Kita bisa mencoba menjelaskan fenomena ini dari berbagai macam sudut pandang, tapi pada dasarnya, kita manusia egois. Maunya mengikuti aturan sendiri, tidak peduli dengan yang lain, yang penting saya, saya dan saya lagi!!

Apa Kekristenan Itu?

19 April 2007

Kalau anda bertanya¬†kepada orang kristen, “Mengapa anda menjadi Kristen / Pengikut Yesus?”, apa yang¬†biasanya¬†mereka jawab?

Biasanya orang menjawab:

  1. “Saya dibesarkan di keluarga atau lingkungan Kristen”
  2. “Saya mengikuti tradisi keluarga atau teman-teman”
  3. “Agar hidup saya tenang/terberkati”
  4. “Karena Yesus adalah juru selamat satu-satunya”

Tidak jarang saya menemui orang kristen yang mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan yang sangat sederhana ini. Karena tidak sedikit dari kalangan orang Kristen sendiri yang tidak begitu mengerti apa arti kekristenan itu!

Lalu, bagaimana untuk mencari jawaban yang benar untuk pertanyaan tersebut? Ya, di Alkitab!! Saya menemukan ringkasan iman kekristenan yang sangat baik dari internet, namanya “2 ways 2 live”.¬†Formatnya sangatlah menarik, dan¬†sangat baik¬†dalam menjawab: “Apa sih kekristenan itu?”

  1. God is loving rulerAllah adalah pencipta dunia dan segala isinya, dan telah menempatkan kita sebagai penguasa dunia dibawah kekuasaan-Nya
  2. God rejectedKita semua telah menolakNya sebagai penguasa dunia dengan mencoba untuk menjalani hidup kita tanpa-Nya. Tetapi, kita telah gagal untuk menguasai kehidupan kita, sekitar kita, dan dunia.
  3. DeathTuhan tidak akan membiarkan kita memberontak untuk selama-lamanya, melainkan, hukuman untuk pemberontakan ini adalah kematian dan penghakiman.
  4. Jesus ChristKarena kasihNya, Allah telah mengirim anakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Yesus selalu hidup dibawah hukum Allah, tetapi dengan mati untuk manusia, dia mengambil hukuman manusia dan membawa pengampunan untuk manusia.
  5. Jesus raisedAllah membangkitkan Yesus kembali sebagai penguasa dunia. Yesus sudah menguasai kematian, dan sekarang memberi kehidupan, akan kembali lagi untuk menghakimi manusia.
  6. 2 ways 2 liveHanya ada 2 cara untuk hidup: Cara kita (menolak Allah sebagai penguasa dengan menjalankan hidup kita tanpaNya, akibatnya dihukum oleh Allah dengan kematian dan penghakiman), atau cara Allah (tunduk kepada Yesus sebagai penguasa kehidupan kita, dengan bersandar pada kematian dan kebangkitan-Nya, akibatnya diampuni oleh Allah dan diberikan hidup kekal!

Kesimpulan, untuk¬†menjawab pertanyaan sederhana ini, “apa kekristenan itu”, marilah¬†kita kembali kepada sumbernya, Firman Tuhan itu sendiri. Bukan dari ‘cerita-cerita’ atau ‘analogi’ semata!

Kedatangan-Nya di dunia sudah diramalkan dari awal (jauh sebelum Dia datang ke dunia):

  1. Lahir dari seorang gadis perawan (Yesaya 7:14, Matius 1:22-23)
  2. Tempat kelahiranNya ada di Bethlehem (Mikha 5:2, Matius 2:5-6)
  3. Seorang utusan akan dikirim untuk menyiapkan jalan untukNya (Maleakhi 3:1, Matius 11:10)
  4. Dan banyak lainnya (bisa baca sendiri di Matius, Markus, Lukas atau Yohanes)!

Pengalaman Kerja selama di dunia:

  1. Mengajar Hukum Tuhan kepada orang banyak (contoh: Matius 4:12-17)
  2. Menyembuhkan yang sakit (contoh: Matius 4:23-25)
  3. Memberhentikan angin ribut (Matius 8:23-27)
  4. Memberi makan 5000 orang hanya dengan 5 roti dan 2 ikan (Matius 14:13-21)
  5. dan lain-lain (bisa baca sendiri di Matius, Markus, Lukas atau Yohanes)!

Pengakuan dari diri-Nya sendiri:

  1. Seorang Mesiah (yang terpilih), Yohanes 4:25-26
  2. Anak Allah, Yohanes 5:17-18
  3. Roti Hidup, Yohanes 6:35
  4. Satu-satunya jalan untuk mengenal Allah Bapa, Yohanes 14:6-7
  5. dan lain-lain (bisa baca sendiri di Matius, Markus, Lukas atau Yohanes)!

Kesaksian dari orang lain:

  1. “Anak-Ku”, suara dari sorga (Markus 1:11)
  2. “Anak Allah”, dari Yohanes pembaptis (Yohanes 1:34)
  3. “Anak dari Allah yang maha tinggi”, dari roh jahat (Markus 5:6-9)
  4. dan banyak lainnya, bisa baca sendiri di Matius, Markus, Lukas atau Yohanes!

Melalui kutipan-kutipan Alkitab di atas, bisa kita simpulkan, bahwa Yesus memproklamasikan diriNya sendiri (dengan banyak saksi) sebagai Anak Allah, yang terpilih, sebagai satu-satunya jalan untuk mengenal Allah Bapa!

Wah!!! Sebuah pernyataan yang sangat kontroversial!!! Mengaku diriNya setara dengan Tuhan!! Lalu, apa tanggapan kita dari pernyataan-Nya ini:

  1. “Yesus ini adalah seorang pembohong, tidak mungkin dia setara dengan Tuhan!”
  2. “Yesus ini mungkin sebagian benar, tapi ada beberapa dari pernyataan-Nya yang tidak logis, dan tidak bisa dipercaya!”
  3. “Pernyataan Yesus yang dikutip di atas diambil dari Alkitab, sedangkan Alkitab sendiri belum tentu bisa diambil sebagai catatan sejarah yang benar!”
  4. “Yesus ini telah berkata jujur dan semua pernyataan-Nya adalah kebenaran”

Seperti tulisan yang sebelumnya, menganalisa akibat atau konsekuensi mungkin lebih berarti dalam menanggapi pernyataan dari Yesus!

Kalau memang Tuhan itu sudah memperkenalkan diriNya sendiri (untuk bagaimana mengetahui Tuhan yang mana, lihat tulisan sebelumnya), memang kenapa? Apa akibat atau konsekuensi dari kita mengenal atau tidak mengenal Tuhan ini?

Seperti tulisan saya yang pertama, mungkin bisa saya tambahkan juga, tanggapan kita bisa di-generalisasi-kan seperti berikut:

  1. ‚ÄúWah, saya sudah dibesarkan di keluarga yang saleh dan beragama, jadi saya sudah mengenal Tuhan sejak kecil‚ÄĚ
  2. ‚ÄúSaya sih sekarang sudah dewasa dan bisa berpikir sendiri, jadi ‚Äėtuhan-tuhanan‚Äô dan agama bukan untuk saya, yang penting hidup yang benar saja lah!! Beragama itu bagus, hanya untuk meningkatkan moral, cukup segitu saja lah!‚ÄĚ
  3. ‚ÄúWah, agama itu buatan manusia, orang yang terpelajar tentunya tahu itu!! ‚ÄĚ
  4. “‘Banyak jalan menuju ke Roma’, begitu juga dengan agama, Tuhan yang mana saja akan berakhir di jalan yang benar!”

Tentunya banyak dari kita bisa dikategorikan di antara 4-poin di atas. Kategori apa kita saat ini, mungkin tidak sepenting apa akibat dari keputusan kita saat ini terhadap ‘ketuhanan’. Contoh:

Saat ini presiden Indonesia adalah si ‘SBY’. Apa akibatnya dari:

  1. “Saya sudah tahu dari kecil memang¬†presiden itu ada!”, akibatnya: selama¬†kita tahu bahwa si ‘SBY’ adalah presiden yang sah dan mengikuti peraturan kenegaraan-nya, sepertinya kita hidup tenang-tenang saja ūüôā .
  2. “Saya sekarang sudah dewasa, dan bisa berpikir sendiri, banyak peraturan di negara ini yang saya tidak setuju! Contohnya: saya bisa mengemudi seenak hati di jalan raya!”, akibatnya: kena tilang dari pak polisi deh!
  3. “Wah, presiden itu kan buatan rakyat, semua juga tahu itu, sedangkan saya tidak setuju dengan rakyat banyak! Contoh: Saya maunya mengemudi seenak hati di jalan raya!!”, akibatnya: kena tilang dari pak polisi lagi deh!
  4. “‘Banyak jalan menuju ke Roma’, begitu juga dengan peraturan negara, saya presiden di rumah dan kampung saya sendiri kok! Sehingga saya bisa mengikuti peraturan saya sendiri, sama saja kan! Contoh: saya bisa mengemudi seenak hati di jalan kampung!”, akibatnya: kalau memang tidak ada polisi di kampung, tapi jadinya menabrak orang, wah wah!!

Nah, sekarang bagaimana dengan ‘Tuhan’? Kalau memang ‘Tuhan’ yang sudah memperkenalkan diriNya sendiri memang berkata “Aku seperti polisi lalu-lintas, dan akibat dari melanggar peraturanKu adalah surat tilang!”. Wah, terus terang kita bisa lega, karena membayar tilang tidaklah begitu parah ūüėÄ !

Masalahnya, bagaimana kalau ‘Tuhan’ ini sudah menetapkan peraturanNya, “PeraturanKu begini begitu, kalau kau melanggarNya, akibatnya adalah kau akan menderita beribu-ribu tahun!!”. Wah wah, kalau memang peraturanNya begitu keras, bukankah kita akan lebih serius untuk mau mengenal ‘Tuhan’ ini, karena kita takut akan konsekuensinya??

Kesimpulan: keputusan yang kita ambil harusnya berdasarkan akibat atau konsekuensi, dan bukanlah emosi semata (termasuk pendapat pribadi), setuju? Jadi, kalau memang ada ‘Tuhan’ yang telah menetapkan peraturanNya dengan konsekuensi yang dahsyat, bukankah kita mau mengenalNya lebih jauh??