Untuk memulai penjelasan mengapa “Garam Dunia” ada, mari kita pertimbangkan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • “Bagaimana cara mengenal seseorang yang kedudukan atau statusnya jauh lebih tinggi dari saya?”
  • “Apa konsekuensi atau akibat dari mengenal atau tidak mengenal orang ini?”

Contoh, mari kita asumsi orang penting ini adalah seorang presiden atau raja. Di dalam asumsi ini, kita juga tidak mengenal secara pribadi si presiden atau sang raja, maupun teman atau keluarga dekatnya. Lalu bagaimana kita bisa kenal dia? Kalau kita pikir secara logis, ada beberapa cara:

  1. Kita berprestasi sehebat mungkin dalam berbagai bidang ilmu, dan berharap, si presiden atau sang raja terkagum atas prestasi kita, dan kita bisa dipanggil olehnya. Dengan demikian, kita bisa mulai mengenal si presiden atau sang raja.
  2. Kita melakukan studi dan penelitian dari buku-buku, baik biografi ataupun publikasi-publikasi yang tersedia mengenai si presiden atau sang raja ini. Tentunya, kita berasumsi ada sekelompok orang (mungkin keluarga, atau teman), termasuk si presiden dan sang raja sendiri, telah menulis publikasi-publikasi ini. Semakin dekat hubungan si penulis ini terhadap si presiden atau sang raja, semakin akurat studi kita.
  3. Si presiden atau sang raja memperkenalkan mereka sendiri kepada kita. Ini adalah cara yang paling akurat untuk mengenal mereka, karena dengan pengalaman mata dan telinga kita sendiri, kita bisa bertanya, dan melihat karya-karya si presiden atau sang raja.

Lalu, apa konsekuensinya dengan mengenal atau tidak mengenal si presiden atau sang raja ini? Wah, pertanyaan ini benar-benar tergantung si presiden, sang raja, atau kita sendiri. Contohnya, di dalam konteks kehidupan sehari-hari belakangan ini, kita tidak begitu perlu mengenal presiden di negara kita sendiri. Untuk kepentingan kita sendiri, mungkin sangat baik mengenal si presiden, karena kebutuhan kita di dunia ini mungkin akan jadi lebih mudah. Contoh, peluang untuk berpolitik, ber-bisnis, dan lain sebagainya.

Kita bisa mengganti ‘tokoh-penting’ ini dengan orang lain tentunya. Saya undang anda untuk mengganti ‘si presiden’ atau ‘sang raja’ dengan: ayah, ibu, kekasih, atau orang penting lainnya di hidup anda. Metode ‘bagaimana-saya-mengenal-dia’ tidak akan jauh dari 3-poin yang saya sudah kemukakan di atas. Juga, apa konsekuensinya dengan mengenal atau tidak mengenal orang-orang ini di kehidupan kita.

Nah, sekarang ke pertanyaan yang sangat penting!! Bagaimana kalau tokoh penting ini adalah Tuhan sang pencipta langit, bumi dan segala isinya?? Bagaimana kita bisa mengenal Tuhan (yang tidak terjangkau?) ini? Apa konsekuensi atau akibat dari mengenal atau tidak mengenal Tuhan ini??

Tentunya, ada beberapa tanggapan yang bisa di-generalisasi-kan:

  1. “Wah, saya sudah dibesarkan di keluarga yang saleh dan beragama, jadi saya sudah mengenal Tuhan sejak kecil”
  2. “Saya sih sekarang sudah dewasa dan bisa berpikir sendiri, jadi ‘tuhan-tuhanan’ dan agama bukan untuk saya, yang penting hidup yang benar saja lah!! Beragama itu bagus, hanya untuk meningkatkan moral, cukup segitu saja lah!”
  3. “Wah, agama itu buatan manusia, orang yang terpelajar tentunya tahu itu!!”

Bagaimana dengan anda? Masuk kategori manakah anda dari 3-poin yang di atas?

Mengapa “Garam Dunia” ada? Saya hanya ingin berbagi pengetahuan kepada para pembaca, bahwa tiap keputusan, ada konsekuensi. Ada keputusan yang anda ambil setiap hari, tidak memiliki akibat yang berarti. Tapi bagaimana anda tahu bahwa akibat dari keputusan anda itu berarti atau tidak?? Seseorang yang mengalami atau tahu lebih tentang keputusan tersebut, tentunya lebih terdidik akan konsekuensinya!! Setuju?

Contoh sederhana, di dalam peraturan lalu lintas: saya kurang tahu peraturan berlalu lintas di jalur Thamrin-Sudirman di Jakarta. Terlebih lagi, saya juga tidak tahu konsekuensi dari kekurang-tahuan saya terhadap peraturan-peraturan tersebut. Untungnya, orang-tua saya tahu dan berpengalaman di jalan-jalan protokol itu. Saya ‘diberitahu’ bahwa saya harus begini-begitu KALAU TIDAK saya akan kena denda (akibat dari melanggar peraturan tersebut).

Nah, sama dengan mengenal Tuhan. Bagaimana kalau seseorang yang sudah mengenal Tuhan telah memberi tahu saya, bahwa Tuhan itu nyata dan kita harus menyembah-Nya. Terlebih lagi, konsekuensi dari tidak menyembahnya adalah begini-begitu. Lalu apa tanggapan kita?

  1. Mau mengenal lebih dalam siapa Tuhan ini?
  2. Peduli amat?
  3. Tidak dalam prioritas kehidupan saya?

Mudah-mudahan diskusi di “Garam Dunia” ini bisa memberi wawasan yang lebih luas kepada para pembaca: Apa dan mengapa di dalam mengenal Tuhan dan akibatnya!

3 Responses to “Apa Itu Garam Dunia?”

  1. unspun Says:

    so what’s your e-mail address?

  2. Iman Kristen Says:

    Salam kenal,
    Kok berhenti nulisnya?
    Tidak di update lagi?

  3. Soetrisno Says:

    Syaloom,
    Bagi saya, mengenal Tuhan sangat penting (Hosea 6:4 a).Puji Tuhan, karena Allah sendiri telah menyatakan diriNya didalam Yesus Kristus,sehingga melalui Yesusz Kristus,kita bisa mengenal Allah dengan segala atributNya,karakterNya.Pengenalan kepada Tuhan ,dapat diperoleh melalui doa, merenungkan Firman Tuhan dan melaksanakan dalam kehidupan sehari hari, sehingga Roh Kudus memberi pencerahan kepada hati,pikiran kita akan kehadiran Tuhan didalam segala aspek kehidupan kita.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: