<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Suami Sebagai Kepala Keluarga?</title>
	<atom:link href="http://garamdunia.wordpress.com/2007/05/11/suami-sebagai-kepala-keluarga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://garamdunia.wordpress.com/2007/05/11/suami-sebagai-kepala-keluarga/</link>
	<description>Jadilah Garam dan Terang Dunia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Oct 2009 14:50:32 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: ana</title>
		<link>http://garamdunia.wordpress.com/2007/05/11/suami-sebagai-kepala-keluarga/#comment-130</link>
		<dc:creator>ana</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 09:31:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://garamdunia.wordpress.com/2007/05/11/suami-sebagai-kepala-keluarga/#comment-130</guid>
		<description>setelah baca tulisan ini, ternyata inilah hidup wanita kristen, kerohanian istri sebagian besar tanggung jawab suami, tetapi di keluarag itu tidka kita temukan, iman istri sebelum pernikahan tidak separah sekarang tetapi berhubung karena banyaknya istri yang diperlakukan suami tidak untuk dikasihi melebihi untuk dibodohin, dan diperlakukan kasar, apa solusi buat beban ini, sampai kapan ini berakhir, terkadang istri berbagi melalui media, melalui teman tapi tidak ada solusi, berhubung derita yang dialami istri-istri ini sama dengan derita yang saya alami bahkan sudah berpuluh-puluh tahun. Tapi aku hanya ada kiat, disasat aku buntu tidak ada jalan keluar aku sujud kepada Tuhan Menangis sepuas-puasnya yah sudah selesai, tapi akhirnya berangkat kerja mata sudah diatas permukaan bola dunia, melihat lingkungan kerja terkadang kita malu tapi ada tingkat kepuasan dan tidak terbeban, dan besok muncul lagi di dalam keluarga masalah yang tidak kita duga (baru. amang oi amang Tuhan Yesus....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>setelah baca tulisan ini, ternyata inilah hidup wanita kristen, kerohanian istri sebagian besar tanggung jawab suami, tetapi di keluarag itu tidka kita temukan, iman istri sebelum pernikahan tidak separah sekarang tetapi berhubung karena banyaknya istri yang diperlakukan suami tidak untuk dikasihi melebihi untuk dibodohin, dan diperlakukan kasar, apa solusi buat beban ini, sampai kapan ini berakhir, terkadang istri berbagi melalui media, melalui teman tapi tidak ada solusi, berhubung derita yang dialami istri-istri ini sama dengan derita yang saya alami bahkan sudah berpuluh-puluh tahun. Tapi aku hanya ada kiat, disasat aku buntu tidak ada jalan keluar aku sujud kepada Tuhan Menangis sepuas-puasnya yah sudah selesai, tapi akhirnya berangkat kerja mata sudah diatas permukaan bola dunia, melihat lingkungan kerja terkadang kita malu tapi ada tingkat kepuasan dan tidak terbeban, dan besok muncul lagi di dalam keluarga masalah yang tidak kita duga (baru. amang oi amang Tuhan Yesus&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Rusdy</title>
		<link>http://garamdunia.wordpress.com/2007/05/11/suami-sebagai-kepala-keluarga/#comment-128</link>
		<dc:creator>Rusdy</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 08:29:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://garamdunia.wordpress.com/2007/05/11/suami-sebagai-kepala-keluarga/#comment-128</guid>
		<description>Ketika anda bertanya:

&lt;blockquote&gt;...masih pantaskan pernikahan dilanjutkan?&lt;/blockquote&gt;

Anda sendiri telah menjawabnya dengan sangat baik:

&lt;blockquote&gt; ...aku juga tetap bertahan karena mengingat janji pernikahan kami bahwa tidak ada perpisahan kalau tidak dipisahkan oleh kematian... &lt;/blockquote&gt;

Menurut saya, pertanyaan yang sebenarnya adalah:

&lt;blockquote&gt;...bagaimana keluar dari lingkaran yang selalu memojokkan istri ini...&quot;&lt;/blockquote&gt;

Di satu sisi, kita hanya memenuhi janji kita, dengan konsekuensi sakit hati (&amp; mungkin fisik) seumur hidup. Di sisi lain, mungkin hidup kita menjadi lebih baik dengan meninggalkannya.

Terus terang, saya juga tidak tahu. Begitu banyak kejadian di hidup kita, yang mengakibatkan kita menderita begitu dalam, walaupun bukan karena kesalahan kita sendiri.

Apakah meninggalkan suami yang telah gagal menjalankan perannya akan membuat hidup seseorang menjadi lebih baik? Mungkin saja tujuan hidup manusia adalah untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia yang fana ini?

Kita hanya bisa bersyukur Tuhan kita begitu mengasihi kita, walau kita tidak setia. Kalau tidak, celakalah kita semua!!

Ah, ternyata saya tidak mampu menjawab pertanyaan anda</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika anda bertanya:</p>
<blockquote><p>&#8230;masih pantaskan pernikahan dilanjutkan?</p></blockquote>
<p>Anda sendiri telah menjawabnya dengan sangat baik:</p>
<blockquote><p> &#8230;aku juga tetap bertahan karena mengingat janji pernikahan kami bahwa tidak ada perpisahan kalau tidak dipisahkan oleh kematian&#8230; </p></blockquote>
<p>Menurut saya, pertanyaan yang sebenarnya adalah:</p>
<blockquote><p>&#8230;bagaimana keluar dari lingkaran yang selalu memojokkan istri ini&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Di satu sisi, kita hanya memenuhi janji kita, dengan konsekuensi sakit hati (&amp; mungkin fisik) seumur hidup. Di sisi lain, mungkin hidup kita menjadi lebih baik dengan meninggalkannya.</p>
<p>Terus terang, saya juga tidak tahu. Begitu banyak kejadian di hidup kita, yang mengakibatkan kita menderita begitu dalam, walaupun bukan karena kesalahan kita sendiri.</p>
<p>Apakah meninggalkan suami yang telah gagal menjalankan perannya akan membuat hidup seseorang menjadi lebih baik? Mungkin saja tujuan hidup manusia adalah untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia yang fana ini?</p>
<p>Kita hanya bisa bersyukur Tuhan kita begitu mengasihi kita, walau kita tidak setia. Kalau tidak, celakalah kita semua!!</p>
<p>Ah, ternyata saya tidak mampu menjawab pertanyaan anda</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lita</title>
		<link>http://garamdunia.wordpress.com/2007/05/11/suami-sebagai-kepala-keluarga/#comment-126</link>
		<dc:creator>lita</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 04:38:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://garamdunia.wordpress.com/2007/05/11/suami-sebagai-kepala-keluarga/#comment-126</guid>
		<description>Terus terang,sejak menikah 10 tahun lalu, saya sebagai istrilah yang menjadi kepala keluarga, seperti kriteria yang dituliskan di atas. Sikap dan temprtamen suami, membuat saya harus mengambil alih tanggung jawabnya. Saya mengasihi suami dengan sungguh-sungguh, memperhatikan kebutuhan fisik dan rohaninya. (dia tak pernah kekurangan manakan, minuman, pakaian dll, dan pelayanan istri, meskipun dia memberikan penghasilannya kepada istri hanya bisa dihitung dengan jari tangan...selama 10 tahun lho). 
Saya juga yang mengajaknya selalu ke gereja, memasukkan makna firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari (meskipun itu sangat sering menimbulkan kemarahannya karena dia merasa digurui). Saya juga sediakan buku-buku rohani, dengan harapan bisa memperkaya pengetahuan rohaninya, namun nyaris tak pernah disentuh. Kalau saya tidak sedang bersama dengan dia, jangan harap dia pergi sendiri ke gereja. dia juga hanya peserta pasif jika kami bersaat teduh keluarga, bersama putra kami satu-satunya. Bahkan, tanpa malu, dia sering kali minta tidur duluan, saat saya dan anak saya sedang bersaat teduh. 
sementara, tanggung jawabnya mengasihi istri, hampir tak pernah saya rasakan, karena 70 persen dalam hari-hari pernikahan kami diisi oleh kemarahan demi kemarahannya. saya baru merdeka kalau berjauhan, atau kalau saya mendiamkan dia, barulah saya merdeka melakukan apa yang saya mau (hal positif tentu). kalau tidak, dia terus mendikte hidupku, menyoroti keuanganku, karena dia merasa itu adalah miliknya, sementara gajinya adalah untuk dirinya sendiri. 
Baginya, keluargaku busuk semua, mengerogoti diriku, meskipun fakta yang terjadi adalah sebaliknya. Dia sering kali memakiku dengan sebutan hewan..demikian juga saudaraku, bahkan orangtuaku sendiri, meski mereka tak tau sama sekali masalah yang terjadi, sebab aku jarang mengadu. kalaupun aku mengadu, mereka selalu memberi masukan positif agar aku tetap bisa mempertahankan rumah tanggaku tetap utuh.
Tapi, suamiku selalu merasa aku sangat berpihak pada keluargaku, padahal bagiku keluargaku adalah keluarganya juga dan keluarganya adalah keluargaku. terbukti, keponakanku anak dari kakak kandungnya, betah tinggal bersama kami sejak masuk SMP sampai kini dia sudah kusekolahkan sampai ke perguruan tinggi. keponakannya yang lain juga sudah tinggal bersamaku selama lima tahun, dengan betah dan tak mau lagi pulang ke kampungnya. 
Terus terang, saya masih bisa bertahan karena saya merasa bertanggung jawab atas keinginan Tuhan bahwa umatnya tak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan. umatnya pun tak boleh berhenti membantu orang lian (apalagi suami)jika orang lain itu memiliki kekurangan (dalam banyak hal). aku juga tetap bertahan karena mengingat janji pernikahan kami bahwa tidak ada perpisahan kalau tidak dipisahkan oleh kematian. Tentu, rumah tangga, seperti rumah tangga saya ini, bukanlah rumah tangga yang diinginkan Tuhan. lalu,... bagaimanakah menurut Anda sekalian?
wahai  kepala keluargaku...di manakah tanggung jawabmu di hadapan Tuhan? kalau sudah begini, menurut Anda semua...masih pantaskan pernikahan dilanjutkan?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terus terang,sejak menikah 10 tahun lalu, saya sebagai istrilah yang menjadi kepala keluarga, seperti kriteria yang dituliskan di atas. Sikap dan temprtamen suami, membuat saya harus mengambil alih tanggung jawabnya. Saya mengasihi suami dengan sungguh-sungguh, memperhatikan kebutuhan fisik dan rohaninya. (dia tak pernah kekurangan manakan, minuman, pakaian dll, dan pelayanan istri, meskipun dia memberikan penghasilannya kepada istri hanya bisa dihitung dengan jari tangan&#8230;selama 10 tahun lho).<br />
Saya juga yang mengajaknya selalu ke gereja, memasukkan makna firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari (meskipun itu sangat sering menimbulkan kemarahannya karena dia merasa digurui). Saya juga sediakan buku-buku rohani, dengan harapan bisa memperkaya pengetahuan rohaninya, namun nyaris tak pernah disentuh. Kalau saya tidak sedang bersama dengan dia, jangan harap dia pergi sendiri ke gereja. dia juga hanya peserta pasif jika kami bersaat teduh keluarga, bersama putra kami satu-satunya. Bahkan, tanpa malu, dia sering kali minta tidur duluan, saat saya dan anak saya sedang bersaat teduh.<br />
sementara, tanggung jawabnya mengasihi istri, hampir tak pernah saya rasakan, karena 70 persen dalam hari-hari pernikahan kami diisi oleh kemarahan demi kemarahannya. saya baru merdeka kalau berjauhan, atau kalau saya mendiamkan dia, barulah saya merdeka melakukan apa yang saya mau (hal positif tentu). kalau tidak, dia terus mendikte hidupku, menyoroti keuanganku, karena dia merasa itu adalah miliknya, sementara gajinya adalah untuk dirinya sendiri.<br />
Baginya, keluargaku busuk semua, mengerogoti diriku, meskipun fakta yang terjadi adalah sebaliknya. Dia sering kali memakiku dengan sebutan hewan..demikian juga saudaraku, bahkan orangtuaku sendiri, meski mereka tak tau sama sekali masalah yang terjadi, sebab aku jarang mengadu. kalaupun aku mengadu, mereka selalu memberi masukan positif agar aku tetap bisa mempertahankan rumah tanggaku tetap utuh.<br />
Tapi, suamiku selalu merasa aku sangat berpihak pada keluargaku, padahal bagiku keluargaku adalah keluarganya juga dan keluarganya adalah keluargaku. terbukti, keponakanku anak dari kakak kandungnya, betah tinggal bersama kami sejak masuk SMP sampai kini dia sudah kusekolahkan sampai ke perguruan tinggi. keponakannya yang lain juga sudah tinggal bersamaku selama lima tahun, dengan betah dan tak mau lagi pulang ke kampungnya.<br />
Terus terang, saya masih bisa bertahan karena saya merasa bertanggung jawab atas keinginan Tuhan bahwa umatnya tak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan. umatnya pun tak boleh berhenti membantu orang lian (apalagi suami)jika orang lain itu memiliki kekurangan (dalam banyak hal). aku juga tetap bertahan karena mengingat janji pernikahan kami bahwa tidak ada perpisahan kalau tidak dipisahkan oleh kematian. Tentu, rumah tangga, seperti rumah tangga saya ini, bukanlah rumah tangga yang diinginkan Tuhan. lalu,&#8230; bagaimanakah menurut Anda sekalian?<br />
wahai  kepala keluargaku&#8230;di manakah tanggung jawabmu di hadapan Tuhan? kalau sudah begini, menurut Anda semua&#8230;masih pantaskan pernikahan dilanjutkan?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lita</title>
		<link>http://garamdunia.wordpress.com/2007/05/11/suami-sebagai-kepala-keluarga/#comment-125</link>
		<dc:creator>lita</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 04:14:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://garamdunia.wordpress.com/2007/05/11/suami-sebagai-kepala-keluarga/#comment-125</guid>
		<description>Nyatanya, banyak suami yang tidak menjalankan perannya dengan baik, meskipun sebagian besar tugas suami sudah diambil alih istri. Sebagai wanita Kristen, menekan perasaan demi tidak bercerai (karena takut dosa), sudah lazim terjadi. Bagaimanakah solusinya menurut Anda? Sebab, faktanya, banyak suami Kristen yang bertahan dengan keuangkuhannya dan penindasannya kepada istri, karena dia yakin bahwa istrinya yang taat beragama tak akan meminta cerai. Tolong pencerahan bagaimana keluar dari lingkaran yang selalu memojokkan istri ini ya...saudara-saudara ku. Karena satu di antara banyak wanita itu adalah aku sendiri.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nyatanya, banyak suami yang tidak menjalankan perannya dengan baik, meskipun sebagian besar tugas suami sudah diambil alih istri. Sebagai wanita Kristen, menekan perasaan demi tidak bercerai (karena takut dosa), sudah lazim terjadi. Bagaimanakah solusinya menurut Anda? Sebab, faktanya, banyak suami Kristen yang bertahan dengan keuangkuhannya dan penindasannya kepada istri, karena dia yakin bahwa istrinya yang taat beragama tak akan meminta cerai. Tolong pencerahan bagaimana keluar dari lingkaran yang selalu memojokkan istri ini ya&#8230;saudara-saudara ku. Karena satu di antara banyak wanita itu adalah aku sendiri.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
