Suami Sebagai Kepala Keluarga?

11 May 2007

Dari tulisan yang sebelumnya, peran istri di dalam keluarga menurut Alkitab telah dipaparkan. Kalau mau dipikir-pikir, rasanya kok berat sekali? Sepertinya si suami dapat untungnya saja, apakah benar begitu?

Tentu saja, kalau kita mau tahu peran suami-istri yang baik sebagai pengikut Tuhan, sumbernya tidak lain adalah Firman Tuhan itu sendiri. Mari kita lihat apa peran suami di dalam keluarga:

  • Mengasihi istri, seperti Kristus telah mengasihi gerejanya (pengikutNya, bukan gedungnya tentunya ;) ), dan telah menyerahkan diriNya sendiri untuk gerejanya. Efesus 5:25

Tujuannya:

  • Memberikan istrinya sebagai persembahan yang suci dan tanpa cacat untuk Tuhan, melalui ajaran FirmanNya, Efesus 5:26-27

Akibat dari tanggung jawab ini:

  1. Suami tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri. Seperti Kristus datang ke dunia untuk berkorban bagi manusia, tidak untuk kepentinganNya sendiri!
  2. Kerohanian istri, sebagian besar merupakan tanggung jawab si suami.

Melalui definisi di atas, suami memegang peranan yang sangat penting di dalam keluarga. Firman Tuhan memberikan peran kepada suami, agar mengasihi istri seperti Kristus mengasihi gerejaNya!

Sedemikian seriusnya hubungan suami-istri ini, tidak heran, Paulus memberikan peringatan yang bijaksana di dalam hal ini, di dalam suratnya 1 Korintus 7

About these ads

8 Responses to “Suami Sebagai Kepala Keluarga?”

  1. lita Says:

    Nyatanya, banyak suami yang tidak menjalankan perannya dengan baik, meskipun sebagian besar tugas suami sudah diambil alih istri. Sebagai wanita Kristen, menekan perasaan demi tidak bercerai (karena takut dosa), sudah lazim terjadi. Bagaimanakah solusinya menurut Anda? Sebab, faktanya, banyak suami Kristen yang bertahan dengan keuangkuhannya dan penindasannya kepada istri, karena dia yakin bahwa istrinya yang taat beragama tak akan meminta cerai. Tolong pencerahan bagaimana keluar dari lingkaran yang selalu memojokkan istri ini ya…saudara-saudara ku. Karena satu di antara banyak wanita itu adalah aku sendiri.

  2. lita Says:

    Terus terang,sejak menikah 10 tahun lalu, saya sebagai istrilah yang menjadi kepala keluarga, seperti kriteria yang dituliskan di atas. Sikap dan temprtamen suami, membuat saya harus mengambil alih tanggung jawabnya. Saya mengasihi suami dengan sungguh-sungguh, memperhatikan kebutuhan fisik dan rohaninya. (dia tak pernah kekurangan manakan, minuman, pakaian dll, dan pelayanan istri, meskipun dia memberikan penghasilannya kepada istri hanya bisa dihitung dengan jari tangan…selama 10 tahun lho).
    Saya juga yang mengajaknya selalu ke gereja, memasukkan makna firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari (meskipun itu sangat sering menimbulkan kemarahannya karena dia merasa digurui). Saya juga sediakan buku-buku rohani, dengan harapan bisa memperkaya pengetahuan rohaninya, namun nyaris tak pernah disentuh. Kalau saya tidak sedang bersama dengan dia, jangan harap dia pergi sendiri ke gereja. dia juga hanya peserta pasif jika kami bersaat teduh keluarga, bersama putra kami satu-satunya. Bahkan, tanpa malu, dia sering kali minta tidur duluan, saat saya dan anak saya sedang bersaat teduh.
    sementara, tanggung jawabnya mengasihi istri, hampir tak pernah saya rasakan, karena 70 persen dalam hari-hari pernikahan kami diisi oleh kemarahan demi kemarahannya. saya baru merdeka kalau berjauhan, atau kalau saya mendiamkan dia, barulah saya merdeka melakukan apa yang saya mau (hal positif tentu). kalau tidak, dia terus mendikte hidupku, menyoroti keuanganku, karena dia merasa itu adalah miliknya, sementara gajinya adalah untuk dirinya sendiri.
    Baginya, keluargaku busuk semua, mengerogoti diriku, meskipun fakta yang terjadi adalah sebaliknya. Dia sering kali memakiku dengan sebutan hewan..demikian juga saudaraku, bahkan orangtuaku sendiri, meski mereka tak tau sama sekali masalah yang terjadi, sebab aku jarang mengadu. kalaupun aku mengadu, mereka selalu memberi masukan positif agar aku tetap bisa mempertahankan rumah tanggaku tetap utuh.
    Tapi, suamiku selalu merasa aku sangat berpihak pada keluargaku, padahal bagiku keluargaku adalah keluarganya juga dan keluarganya adalah keluargaku. terbukti, keponakanku anak dari kakak kandungnya, betah tinggal bersama kami sejak masuk SMP sampai kini dia sudah kusekolahkan sampai ke perguruan tinggi. keponakannya yang lain juga sudah tinggal bersamaku selama lima tahun, dengan betah dan tak mau lagi pulang ke kampungnya.
    Terus terang, saya masih bisa bertahan karena saya merasa bertanggung jawab atas keinginan Tuhan bahwa umatnya tak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan. umatnya pun tak boleh berhenti membantu orang lian (apalagi suami)jika orang lain itu memiliki kekurangan (dalam banyak hal). aku juga tetap bertahan karena mengingat janji pernikahan kami bahwa tidak ada perpisahan kalau tidak dipisahkan oleh kematian. Tentu, rumah tangga, seperti rumah tangga saya ini, bukanlah rumah tangga yang diinginkan Tuhan. lalu,… bagaimanakah menurut Anda sekalian?
    wahai kepala keluargaku…di manakah tanggung jawabmu di hadapan Tuhan? kalau sudah begini, menurut Anda semua…masih pantaskan pernikahan dilanjutkan?

  3. Rusdy Says:

    Ketika anda bertanya:

    …masih pantaskan pernikahan dilanjutkan?

    Anda sendiri telah menjawabnya dengan sangat baik:

    …aku juga tetap bertahan karena mengingat janji pernikahan kami bahwa tidak ada perpisahan kalau tidak dipisahkan oleh kematian…

    Menurut saya, pertanyaan yang sebenarnya adalah:

    …bagaimana keluar dari lingkaran yang selalu memojokkan istri ini…”

    Di satu sisi, kita hanya memenuhi janji kita, dengan konsekuensi sakit hati (& mungkin fisik) seumur hidup. Di sisi lain, mungkin hidup kita menjadi lebih baik dengan meninggalkannya.

    Terus terang, saya juga tidak tahu. Begitu banyak kejadian di hidup kita, yang mengakibatkan kita menderita begitu dalam, walaupun bukan karena kesalahan kita sendiri.

    Apakah meninggalkan suami yang telah gagal menjalankan perannya akan membuat hidup seseorang menjadi lebih baik? Mungkin saja tujuan hidup manusia adalah untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia yang fana ini?

    Kita hanya bisa bersyukur Tuhan kita begitu mengasihi kita, walau kita tidak setia. Kalau tidak, celakalah kita semua!!

    Ah, ternyata saya tidak mampu menjawab pertanyaan anda

  4. ana Says:

    setelah baca tulisan ini, ternyata inilah hidup wanita kristen, kerohanian istri sebagian besar tanggung jawab suami, tetapi di keluarag itu tidka kita temukan, iman istri sebelum pernikahan tidak separah sekarang tetapi berhubung karena banyaknya istri yang diperlakukan suami tidak untuk dikasihi melebihi untuk dibodohin, dan diperlakukan kasar, apa solusi buat beban ini, sampai kapan ini berakhir, terkadang istri berbagi melalui media, melalui teman tapi tidak ada solusi, berhubung derita yang dialami istri-istri ini sama dengan derita yang saya alami bahkan sudah berpuluh-puluh tahun. Tapi aku hanya ada kiat, disasat aku buntu tidak ada jalan keluar aku sujud kepada Tuhan Menangis sepuas-puasnya yah sudah selesai, tapi akhirnya berangkat kerja mata sudah diatas permukaan bola dunia, melihat lingkungan kerja terkadang kita malu tapi ada tingkat kepuasan dan tidak terbeban, dan besok muncul lagi di dalam keluarga masalah yang tidak kita duga (baru. amang oi amang Tuhan Yesus….

  5. riyadi Says:

    Kalau dibaca semua tulisan ini sepertinya para wanita kristen yg mengalami kondisi seperti ini sudah terjebak pada sebuah hukum bahwa bercerai dengan suami tanpa melalui kematian adalah dosa. so…apa solusinya?..tetap bertahan dalam pernikahan tapi seperti di dalam neraka, hidup tanpa kebahagiaan, padahal sejatinya kita dilahirkan oleh Tuhan di dunia berpasangan dan diciptakan hukum pernikahan agar kita bahagia. Sepertinya harus ada suatu pemahaman baru tentang hukum ini, sehingga hukum dapat sesuai dengan fitrah kemanusiaan kita. Sebagaimana dalam hukum agama islam, walaupun bercerai itu adalah suatu yang dibenci oleh Tuhan, tapi diberikan jalan bila memang tidak memungkinkan lagi pernikahan itu dipertahankan.
    Bagaimana mungkin menjalani pernikahan kalau hanya akan membuat tersiksa, apakah tidak lebih baik mencari peluang lain untuk keluar dari kondisi ini. Bercerai dan mencari pasangan lain, atau tidak menikah lagi uselamanya (kalau mampu).
    Jika di zaman abad pertengahan, ketika pengaruh gereja masih sangat kuat, perceraian dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Orang yang melakukan itu, dianggap seperti kriminal yang terkucilkan dari masyarakat. Teman-teman sejawatnya, biasanya akan mencap orang itu sebagai seseorang yang tak baik. Selain itu, tetangga juga mencibir dan akan menjadi bahan pembicaraan hangat untuk waktu yang cukup lama.
    Lalu bagaimana di zaman modern ini?…prakteknya di luar negeri hukum perceraian ini sudah tidak lagi menjadi acuan dalam kehidupan masyarakatnya. Di Inggris yang merupakan negara mayoritas rakyatnya kristen dan kuat dengan sejarah perjuangan pembelaan terhadap agamanya, praktek kawin cerai sudah menjadi hal biasa. Bagaimana seorang Pangeran Charles bercerai dengan istrinya dan kemudian menikah lagi dengan mantan pacarnya. Dan banyak tokoh-tokoh terkenal di sana yang melakukan kawin cerai padahal pasangannya tidak meninggal.
    Dalam kehidupan masyarakat modern yang sudah lebih mengedepankan logika dalam budaya kehidupannya, maka hukum yang mematikan peluang perceraian kecuali oleh kematian sudah tidak dapat lagi diterima oleh mereka. Mengapa,..karena memang sudah menjadi fenomena lazim dan lumrah bahwa tidak selamanya antara dua orang manusia (suami istri/sahabat) akan dapat akur dan cocok. Dua orang yang berasal dari orang tua yang sama saja tidak selamanya dapat seiring sejalan, tidak jarang mereka dapat saling membunuh dan membenci.
    Jadi…perlu ada suatu pemahaman baru tentang hukum perceraian ini yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan kita. Tentunya itu akan menjadi lebih baik bila para pendeta (bukan pastur, karena pastur pastinya tidak memahami tentang pernikahan ini dengan baik karena mereka tidak menikah)segera membahas permasalahan ini dengan cara yang lebih bijaksana tanpa takut dianggap keluar dari pemahaman yang sudah selama ini dianggap baku.
    Semoga akan lahir pernikahan2 yang akan memberikan kebahagiaan bagi mereka yang hari ini mengalami kezaliman dari pasangan mereka namun tidak dapat berbuat apa-apa karena perasaan takut berdosa sbg akibat dari pemahaman tentang hukum perceraian yang tidak sesuai dengan fitrah kemanusiaan kita. Semoga…amiiin

  6. ice Says:

    ooooo saya lebih parah dari itu. mobil dia pakai, listri digunakan untuk AC, pendidikan anak dia tidak mau. main sama anakpun dia tidak mau, belanja harian dia tidak kasih, dari beban keluarga 12 juta, paling dia beli eskrim, kacang, roti, sebenarnya untuk dirinya sendiri. dia beli makanan, hanya karena makanan tidak enak hehehe emangnya dia kasih uang TIDAK PERNAH, dia kasih uang ke pembantu, ke anak, dan diam2 lho saya tidak tahu, jadi dia tidak membantu kebutuhan keluarga. saya berusaha diam, diam dan diam. balasannya wah :
    saya diturunin di jalan, dia tidak mau antar saya kekantor karena katanya terlambat ke kantor. weleh2 kalau saya minta antar ke suatu tempat, dia suruh panggil supir bayaran. wah kayak orang kaya ya…panggil supir emangnya dia kasih uang supir hehehe TIDAK !!!. Bensin heheheh dia hanya mau kalau mobil dia yang pakai ya diisi sama dia, tapi apa hahaha dia bilang saya sudah beli bensin, sekarang kamu yang beli, padahal yang banyak pake mobil dia. saya sih sekarang mendingan naik busway. terus di kantor dia dapat bonus eheheh emangnya dia kasih hahaha ya TIDAK lah dia diem2 tapi ada yang kasih tahu secara tidak sengaja… ADUH enak benernya di PT….. dapet bonus, hahahaha THR aja gak pernah di kasih….. nah sekali waktu saya diminta untuk ikut mlm dan mendukung dia, maka keluarlah uang 40jt untuk downline dia…. tapi apa yang terjadi, bonusnya bukan masuk ke rekening saya lho, masuknya ke rekening dia……. apa aku dikasi… O tidak, dia malah kasih sama temen2nya…. saya wah gak dipikirin sama dia…… sebenarnya sedih bener tapi yah apa boleh buat, lebih baik kita beranggapan bahwa DIA BUKAN SUAMI SAYA!!!!!


  7. Efs. 5:25 –
    (1)kasihilah,
    Efs_5:28, 33 Lawan dari tunduk adalah memerintah; namun, rasul tidak menasihati para suami untuk memerintah atas istri-istri mereka tetapi mengasihi mereka. Dalam hidup pernikahan, kewajiban istri adalah tunduk dan kewajiban suami adalah mengasihi. Sikap tunduk sang istri ditambah kasih sang suami menyusun satu hidup pernikahan yang wajar dan melambangkan kehidupan gereja yang normal, yang di dalamnya gereja tunduk kepada Kristus dan Kristus mengasihi gereja. Kasih adalah unsur, substansi batini, dari Allah (1Joh_4:8,16). Tujuan kitab ini adalah membawa kita ke dalam substansi batini Allah agar kita dapat menikmati hadirat-Nya dalam kemanisan kasih ilahi, dan dengan demikian mengasihi yang lain seperti yang Kristus lakukan.
    (2)sebagaimana, Kasih suami bagi istrinya haruslah seperti kasih Kristus bagi gereja; dia harus rela membayar harga, bahkan mati bagi istrinya.

    Efs. 5:26 –
    (1)menguduskannya,
    Tujuan Kristus menyerahkan diri-Nya sendiri bagi gereja adalah untuk menguduskannya, bukan hanya menyisihkannya kepada diri-Nya sendiri dari segala sesuatu yang umum tetapi juga menjenuhinya dengan unsur-Nya supaya dia dapat menjadi pasangan-Nya. Dia menggenapkan hal ini dengan memandikannya dengan air dalam firman.

    (2)memandikannya,
    1Kor_6:11 Atau, pembasuhan itu. aslinya berarti bejana pembasuhan. Dalam bahasa Yunani artikel tentu digunakan sebelum kata ini, membuat kata ini mengacu kepada bejana pembasuhan itu, yang dikenal oleh semua orang Yahudi. Dalam Perjanjian Lama, para imam menggunakan bejana pembasuhan untuk membasuh kecemaran duniawi mereka (Kel_30:18-21). Sekarang bejana pembasuhan itu, pembasuhan air itu membasuh kita dari kecemaran.
    (3)air, Menurut konsepsi ilahi, air di sini ditujukan kepada pengaliran hayat Allah, yang dilambangkan dengan air yang mengalir. Pembasuhan air di sini berbeda dengan pembasuhan darah penebusan Kristus. Darah penebusan membasuh dosa-dosa kita (1Joh_1:7; Why_7:14), sedangkan air hayat membasuh cacat hayat alamiah dari manusia lama kita, seperti “cacat atau kerut atau yang serupa itu” (ay. 27). Dalam menyisihkan dan menguduskan gereja, Tuhan terlebih dulu membasuh dosa-dosa kita dengan darah-Nya (Heb_13:12) dan kemudian membasuh cacat alamiah kita dengan hayat-Nya. Kita sekarang ada di dalam proses pembasuhan ini, supaya gereja boleh menjadi kudus dan tanpa cacat (ay. 27).
    (4)firman,
    Joh_15:3,17:17 Kata Yunaninya berarti perkataan seketika. Kristus yang berhuni sebagai Roh pemberi-hayat selalu mengucapkan perkataan yang hidup, baru, seketika, untuk membasuh yang usang secara metabolis dan menggantikannya dengan yang baru, sehingga mendatangkan pengubahan batini. Penyucian dengan pembasuhan air hayat ada di dalam perkataan Kristus. Ini menunjukkan bahwa di dalam perkataan Kristus ada air hayat. Ini dilambangkan dengan bejana pembasuhan yang diletakkan di antara mezbah dengan kemah pertemuan (Kel_38:8; 40:7).

    Efs. 5:27 –
    (1)menempatkan = mempersembahkan. Dahulu, Kristus sebagai Penebus menyerahkan diri-Nya bagi gereja (ay. 25) untuk penebusan dan pembagian hayat (Joh_19:34); sekarang, Dia sebagai Roh pemberi-hayat sedang menguduskan gereja melalui penyisihan, penjenuhan, pengubahan, pertumbuhan, dan pembangunan; kelak, Dia sebagai Mempelai Laki-laki akan mempersembahkan gereja kepada diri-Nya sendiri sebagai pasangan-Nya bagi kepuasan-Nya. Karena itu, Kristus mengasihi gereja untuk menyisihkan dan menguduskannya; ini adalah untuk mempersembahkan gereja kepada diri-Nya sendiri.
    (2)jemaat, Mat_16:18 Dalam bagian yang berisi nasihat ini rasul mengemukakan aspek lain dari gereja, yakni aspek mempelai perempuan. Aspek ini menyatakan bahwa gereja berasal dari Kristus, seperti Hawa berasal dari Adam (Kej._2:21-22), gereja memiliki hayat dan sifat yang sama dengan Kristus, menjadi satu dengan-Nya sebagai pasangan-Nya, seperti Hawa menjadi satu daging dengan Adam (Kej_2:24). Gereja sebagai manusia baru adalah perkara kasih karunia dan realitas, sedangkan gereja sebagai mempelai perempuan Kristus adalah perkara kasih dan terang. Nasihat rasul dalam ps. 4 difokuskan pada manusia baru, yang memiliki kasih karunia dan realitas sebagai unsur dasarnya; sedangkan nasihatnya dalam pasal ini difokuskan pada mempelai perempuan Kristus, yang memiliki kasih dan terang sebagai substansi dasarnya. Kita harus hidup sebagai manusia baru dalam kasih karunia dan realitas, dan kita harus hidup sebagai mempelai perempuan Kristus dalam kasih dan terang.
    (3)cemerlang = mulia. Mulia adalah Allah diekspresikan. Karena itu, menjadi mulia berarti menjadi ekspresi Allah. Akhirnya, gereja yang dipersembahkan kepada Kristus akan menjadi gereja yang mengekspresikan Allah.
    (4)cacat, di sini menandakan sesuatu yang berasal dari hayat alamiah, dan kerut berhubungan dengan ketuaan. Hanya air hayat yang dapat membasuh kekurangan-kekurangan ini secara metabolis dengan pengubahan hayat.
    (5)kudus, Menjadi kudus berarti dijenuhi dengan Kristus dan diubah oleh Kristus; menjadi tak bercela berarti tak bercacat dan tanpa kerut, tidak ada sesuatu pun yang berasal dari hayat alamiah manusia lama.

  8. Nira Wau Says:

    Masih banyak para suami yang melakukannya tugas tanggungjawabnya bagi keluarganya khususnya dalam bimbingan rohani…Mengapa hal itu terjadi?
    Ap yang membuat orangtua tidak melakukan peranannya secara rohani?…
    Maaf saya banyak bertanya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: