Emansipasi Wanita

23 April 2007

Emansipasi wanita di Indonesia, yang dipelopori oleh Ibu Kartini, dan diperingati setiap 21 April setiap tahunnya, telah merubah sejarah Indonesia terutama di kalangan kaum wanita.

Terus terang, saya tidak begitu tahu ceritanya secara mendalam (sejarah bukanlah keahlian saya :) ), namun setelah membaca dari biografi singkatnya, bisa saya rangkumkan (mohon dikoreksi bila ada kesalahan) seperti berikut:

  • Kedudukan wanita secara sosial di masyarakat Indonesia sangatlah rendah pada waktu itu. Contohnya, wanita hanyalah bisa ‘berdiam’ di rumah orang tuanya, dipersiapkan untuk menikah. Setelah menikah, wanita dibawah otoritas suaminya. Pendidikan bukanlah hak para wanita, tugas mereka hanyalah urusan rumah tangga.
  • Kartini mempelopori gerakan emansipasi wanita, contoh: hak wanita dalam pendidikan, otoritas, kedudukan di muka hukum (legalitas), dan banyak lainnya.

Apa pandangan Alkitab terhadap emansipasi ini? Sesuatu hal yang baik atau buruk? Di pandangan masyarakat pada umumnya, emansipasi wanita adalah hal yang sangat baik, apalagi mengingat semua manusia adalah sederajat, tidak memandang ras, agama, maupun jenis kelamin.

Di dalam masalah pendidikan ataupun pekerjaan (karir), Alkitab tidak mempunyai tulisan secara langsung. Tapi, mari kita lihat contoh istri yang bijaksana dari Amsal 31:26-27

“Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya”

Bagaimana mungkin kalau si istri ini bisa menjadi hikmat, tanpa pendidikan yang benar? Sudah jelas, bahwa Firman Tuhan sama sekali tidak menentang pendidikan untuk kaum wanita. Sebaliknya, Firman Tuhan memuji ‘wanita yang bijaksana’!

Bagaimana dalam hal otoritas, atau hak dalam keputusan untuk dirinya sendiri? Contoh kasus:

Si istri telah mencapai puncak karir di dalam tempat bekerjanya. Si suami resah karena rumah tangganya (termasuk anak-anaknya) mulai terbengkalai dengan mereka berdua bekerja full-time. Lalu, si suami memutuskan untuk si istri berhenti bekerja dan mulai mengurus urusan rumah tangga. Si istri keberatan, dan menolak saran dari suaminya. Si istri menekankan akan haknya yang seharusnya setara dalam mengambil keputusan di dalam keluarga. Si istri bersikeras untuk melanjutkan karirnya dan berharap si suami akan mengerti.

Apakah tindakan si istri ini salah? Lagipula, di dalam semangat emansipasi wanita, si istri memang seharusnya mempunyai hak yang sama, bukan begitu?

Mari kita lihat Efesus 5:22-23

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat…”

Menurut Firman Tuhan, hitam di atas putih, memang sepatutnya istri tunduk kepada suami (bukan sebaliknya seperti di kebanyakan rumah tangga!). Juga seperti yang ditekankan dari Amsal 31, istri yang bijaksana akanlah mementingkan kebutuhan rumah tangganya terlebih dahulu, lebih dari keinginan atau ambisi dirinya sendiri.

Wah, berarti Firman Tuhan menentang emansipasi wanita, begitu? Tergantung apa definisi emansipasi tentunya. Kalau kita mendefinisikan emansipasi sebagai menuntut hak untuk pendidikan (atau lainnya), dengan tujuan kepentingan bersama, saya pikir Firman Tuhan justru memuji tindakan ini:

“Janganlah melakukan sesuatu karena didorong kepentingan diri sendiri, atau untuk menyombongkan diri. Sebaliknya hendaklah kalian masing-masing dengan rendah hati menganggap orang lain lebih baik dari diri sendiri” Filipi 2:3

Tetapi, kalau definisi emansipasi itu adalah ‘tiket untuk bebas melakukan apa saja’, apa bedanya dengan emansipasi manusia, yang dipelopori oleh Adam dan Hawa?

Catatan: Konteks tulisan ini adalah di dalam hubungan suami-istri. Untuk yang tidak menikah, argumen di Filipi 2:3 tetaplah berlaku

About these ads

8 Responses to “Emansipasi Wanita”


  1. Pembagian itu tetap perlu seperti dalam Efesus 5:22-23… Kepemimpinan dalam keluarga juga harus jelas. Akan tetapi ya, kalau emansipasi berarti pendidikan, keadilan di tempat kerja, penghargaan atas hak-hak sebagai “teman pewaris kerajaan Allah”. Emansipasi itu harus donk.

  2. christiana Says:

    Salam,
    Meski saya baru pertama kali join dengan topik-topik di website ini, pastinya tidak ada larangan kan menanggapi tulisan tentang emansipasi wanita yang ternyata responnya tidaklah sebanyak topik yang lain.

    Soal emansipasi wanita, saya ingin urun pendapat. Khususnya tentang persepsi emansipasi ala manusia biblikal yang patriarkis. Tanpa menghilangkan rasa hormat dan salut terhadap garam dunia, saya ingin menyampaikan bahwa contoh kasus yang ada dalam tulisan di atas (saya rasa) kurang representatif untuk ditampilkan. mengapa? karena sebagian besar perempuan berkarir atau bekerja full-time bukan melulu karena egoisme pribadi. namun ada nilai karya, nilai kasih dan nilai perjuangan didalamnya.

    Soal rumah tangga dan anak-anak yang sangat memungkinkan terbengkalai (meskipun saya tidak suka kata ini) ketika si istri bekerja, menurut saya tiu bagian dari konsekuensi pilihan keluarga tersebut. Lelaki memang adalah kepala keluarga. tapi belum tentu kepala rumah tangga. Beban ekonomi tetap ada pada yang bekerja.

    Saya yakin siapapun; termasuk TUHAN dan nabi-nabi kita. Tidak akan melarang seorang perempuan yang bekerja jika semua itu ia lakukan untuk kebaikan keluarga. Dasar apa yang membuat suami memutuskan si istri untuk berhenti bekerja? Jika ternyata income istri lebih besar; mengapa tidak suami yang berhenti bekerja?

    Saya rasa semua perlu diputuskan dengan bijaksana dan menggunakan Alkitab sebagai dasar dan pondasi iman sekaligus kehidupa kita demi kebaikan bersama. dan bukan menjadikan Bible sebagai alat untuk menunjukkan sub ordinasi antara perempuan dan lelaki. Pasti perkawinan yang didasarkan saling menghargai dan saling menyayangi jauh lebih indah daripada didasarkan pada hirarkitas suami terhadap istri.

    -terima kasih-

  3. Garam Dunia Says:

    Terima kasih Christiana atas tanggapannya,

    Memang aneh tidak banyak yang menanggapi tulisan ini, padahal menurut statistik, topik ini paling banyak terkena klik dari Google ;) .

    Menanggapi komentar anda dalam:

    “Saya yakin siapapun; termasuk TUHAN dan nabi-nabi kita. Tidak akan melarang seorang perempuan yang bekerja… “

    Sangat setuju. Sebagai pengikut Tuhan, kita harus berpedoman dari Firman Tuhan semata, bukan dari kebudayaan atau perkataan orang semata. Anda pun sangat benar dalam mengatakan tidak ada larangan dari Firman Tuhan untuk kaum wanita untuk bekerja.

    Menanggapi:

    Dasar apa yang membuat suami memutuskan si istri untuk berhenti bekerja? Jika ternyata income istri lebih besar; mengapa tidak suami yang berhenti bekerja?

    Setuju. Tidak ada salahnya kalau si istri yang bekerja dan si suami yang berhenti bekerja untuk mengurus rumah tangga. Firman Tuhan sendiri tidak menyinggung dalam hal siapa yang bekerja dan yang tidak bekerja dalam sebuah keluarga.

    Maaf jika saya kurang jelas dalam tulisan yang di atas (berusaha untuk menulis sesingkat mungkin). Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan dari contoh saya di atas.

    Di dalam contoh “Lalu, si suami memutuskan untuk si istri berhenti bekerja dan mulai mengurus urusan rumah tangga. Si istri keberatan … menolak saran dari suaminya… menekankan akan haknya … dalam mengambil keputusan“:

    Nah, dari contoh di atas, saya berasumsi, si suami adalah seorang pengikut Tuhan yang bijaksana dalam keputusannya. Maka dari itu, saya membuka cerita dengan “Si suami resah karena rumah tangganya (termasuk anak-anaknya) mulai terbengkalai dengan mereka berdua bekerja full-time”

    Saya tidak menyentuh skenario yang saudari Christiana sebutkan, yaitu, mengapa tidak si suami yang tinggal di rumah untuk mengurus rumah tangga, dan membiarkan si istri yang bekerja. Kalau memang mereka setuju untuk melakukan hal ini, maka silahkan saja. Seperti yang sudah anda komentarkan, Firman Tuhan tidak melarang atas siapa yang bekerja di dalam sebuah rumah tangga.

    Nah, yang saya permasalahkan melalui contoh di atas adalah, siapa yang memegang keputusan di dalam sebuah rumah tangga. Menggunakan kutipan dari kitab Efesus di atas, Firman Tuhan jelas dalam menunjuk siapa yang berhak dalam hal ini.

    Sudah kewajiban dari istri untuk tunduk kepada suaminya. Sayangnya, di dunia yang penuh dengan dosa, banyak suami yang sudah menyalahgunakan hak ini.

    Nah, tentunya komentar anda berakar dari masalah ini (kalau saya boleh berasumsi). Menurut saya, tidak ada salahnya untuk si istri, berdiskusi dengan suaminya dan mengutarakan pendapatnya. Tetapi, pada akhirnya, si suami-lah yang memiliki keputusan terakhir.

    Lalu, bagaimana jika keputusan dari si suami tetap tidak bijaksana?

    Contoh: menggunakan contoh saudari Christiana, bagaimana kalau si suami tetap memaksa si istri mengurus rumah tangga, padahal pendapatan si istri lebih baik?

    Marilah kita mengambil asumsi, bahwa si suami merasa terpukul harga dirinya kalau istrinya yang menjadi penopang keluarga.

    Pendapat saya:

    – Ya, saya kecewa kalau si suami mengataskan kepentingah dirinya dibanding kepentingan keluarganya. Padahal si suami seharusnya mengasihi istrinya bagaikan Kristus mengasihi gerejaNya (tidak ada ke-egoisan sama sekali)

    – Menggunakan prinsip dari kitab Efesus, menurut saya, si istri tetap harus tunduk pada suami, walau si suami memutuskan sesuatu yang tidak begitu bijaksana. Tetapi, harus di-ingat, kita harus tunduk kepada Tuhan terlebih dahulu. Nah, untuk hal-hal sepele, termasuk siapa yang bekerja atau tidak, tidak ada salahnya si istri tunduk toh?

    Catatan tambahan:

    Firman Tuhan tidak merendahkan derajat wanita. Di dalam konteks suami-istri, dari kitab Kejadian kita sudah mengetahui bahwa Hawa diciptakan untuk menjadi penolong bagi Adam.

    Masalahnya, di dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini, kita sudah kehilangan gambaran sempurna bagaimana seharusnya suami-istri berhubungan dengan sesama. Apakah dengan ‘tunduk’ kepada suami, secara otomatis merendahkan derajat istri?

    Bukankah ini sama dengan mengatakan, saya tidak setuju dengan Tuhan yang telah menciptakan hukum gravitasi, karena membuat saya tersandung, jatuh, lalu luka. Lalu kita menyimpulkan gravitasi itu buruk?

    Ketika Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, dan bagaimana mereka berhubungan dengan sesama, Tuhan mengatakan hasil ciptaanNya itu baik. Sekarang terserah kita untuk tunduk pada FirmanNya yang ‘baik’, atau tidak

  4. lita Says:

    “Masalahnya, di dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini, kita sudah kehilangan gambaran sempurna bagaimana seharusnya suami-istri berhubungan dengan sesama. Apakah dengan ‘tunduk’ kepada suami, secara otomatis merendahkan derajat istri?”

    Bagi saya sendiri, tunduk pada suami merupakan perintah Tuhan. Namun, apakah saya harus tunduk pada suami, yang secara kasat mata bisa saya lihat bahwa dia akan membawa ‘perahu’ kami ke dalam jurang? sampai sekarang, saya merasa tidak menjalankan perintah Tuhan untuk tunduk pada suami, ya,karena itu…tadi…

  5. achinlaw Says:

    wah… makasih yah …. ini jadi bahan klipping agama saya,,, :D

  6. achinlaw Says:

    ada artikel lainnya lagi gak?

  7. Amanda Says:

    betuuulll bangeett..!
    saya sebagai cewek juga mengaku pernah ‘jatuh’ dalam hal yg saya sebut emansipasi :D

    Emansipasi sih harus!
    Sejak jaman Adam dan Hawa belum jatuh dalam dosa, kan juga sudah ada yg namanya emansipasi.
    Rasanya lebih tepat kalo emansipasi = pertobatan *CMIIW*

  8. rianazylvia Says:

    wuahh superb like this blog
    ^o^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: